JENJANG MENUJU KECERDASAN NURANI
Mintalah fatwa pada dirimu, mintalah fatwa pada
hatimu Wahai Wabishah (bin Ma;bud al-Aswadi). (Nabi mengulanginya tiga kali).
Kebaikan adalah sesuatu yang membuat jiwa tenang dan membuat hati tenang. Dosa
adalah sesuatu yang terasa tidak karuan dalam jiwa dan terasa bimbang dalam
dada.(HR. Ahmad). Salah satu jenjang menuju kecerdasan nurani adalah adanya
kesadaran pada diri seseorang akan adanya kemampuan menentukan suatu pilihan
pada diri sendiri tentang berbagai hal dalam kehidupan, kemampuan yang dimaksud
adalah mampu merasakan dan mengindahkan hembusan, bisikan dan nasehat hati
nurani. Dalam bahasa kenabiannya kita disarankan untuk meminta fatwa pada diri
kita, kita dianjurkan meminta nasehat pada hati nurani kita.
Dalam bahasa
sufi nurani disebut sebagai kalbu. Kalbu atau hati dikatakan nurani? karena hati adalah modal
awal yang diberikan Allah kepada manusia sejak zaman azali, awal penciptaan,
dan salah satu fungsinya adalah agar manusia mampu menggunakan sumber
kecerdasan hati nurani tersebut sebagai penerang dalam menjalani kehidupan.
“Dan jiwa serta penyempurnaannya(ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada
jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang
yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang
mengotorinya”(QS. Asy-Syams: 7-10).
Nurani berarti
cahaya, ketika cahaya tersebut, tidak terhalangi oleh sesuatu maka cahaya
tersebut akan memancar ke segala penjuru, karena nurani bersifat cahaya maka
untuk menjaganya agar tidak kabur dan suram, hendaknya cahaya tersebut kita
hindarkan dari berbagai penghalang, seperti perbuatan maksiat, dosa, mungkar
dan berbagai pelanggaran lainnya kepada Allah. Ayat di secara jelas menginformasikan bahwa orang
yang menjaga kecerdasan hati nuraninya
akan memperoleh keberuntungan, sebaliknya seseorang yang membiarkan kecerdasan
hati nuraninya terhalang oleh kotoran maka ia akan mendapatkan kerugian.
Kecerdasan
hati nurani pada manusia sangat
menentukan baik buruknya sifat dan sikap seseorang dalam memaknai hidupnya,
kalau hati nuraninya digunakan dan dijaga dengan baik maka akan baiklah semua
perilakunya, akan baiklah akhlaknya, sebaliknya bila hati nurani dibiarkan kering, kusam dan kotor,
maka akan kotorlah perbuatannya, perilakuknya, akhlaknya. Ingatlah bahwa dalam
dirimu ada segumpal daging yang kalau baik maka seluruh jasadmu/hidupmu akan
baik dan kalau daging itu rusak maka seluruh jasadmu/hidupmu akan rusak, daging
itu adalah kalbu/hati nurani.(HR. Bukhari). Berapa banyak orang yang mempunyai
hati nurani, namun kecerdasan hati nurani tersebut tidak mampu menyelamatkan
dirinya dari sifat dan perilaku yang buruk dan amoral. Hati nuraninya telah
tercuci dan tergantikan dengan
kecerdasan zulmani.
Seseorang
menggunjing, memaki, mencuri, merampok, korupsi, penghianat bangsa, mengingkari
janji dan perbuatan buruk lainnya adalah bukti nyata dari pengabaian seseorang pada hati nuraninya, ia tidak pernah
mendengarkan bisikan hati nuraninya, ia tidak pernah meminta nasehat pada hati
nuraninya, ia tidak pernah meminta fatwa pada hati nuraninya. Padahal secara
jelas dan tegas Allah dan Rasul-Nya mengatakan bahwa untuk menyikapi berbagai
persoalan hidup hendaknya manusia meminta fatwa pada nuraninya, karena pada
dasarnya nurani kita adalah cahaya Allah yang ditanamkan dalam diri kita untuk
dimanfaatkan sebagai arah dan penasehat pribadi manusia menuju keridaan
Allah. Allah memberikan hati nurani agar
manusia bekeja dan bertindak sesuai dengan hati nurani atau kata hati.
Di saat hati
tenang dan tentram setelah melakukan sesuatu, tidak merasakan ketakutan, tidak
takut dilihat orang, maka perasaan tersebut
mengindikasikan bahwa perbuatan, sikap dan kerja kita telah sesuai
dengan hati nurani, dalam arti kita bekerja dahtidak tentram dan takut
perbuatan, sikap dan kerja kitadilaihat orang maka , hal menunjukkan bahwa kita
belum mendengarkan hati nurani, belum meminta fatwa dan nasehat hati nurani
kita.
Bagaimana cara
melatih agar hati nurani kita peka, nurani kita sensitive? Salah satu cara
adalah dengan salat, sebagaimana telah kita lakukan dan amalkan dalam salat,
kita selalu berdoa kepada Allah, yaitu tunjukilah kami jalan yang lurus, jalan
yang diridhoi oleh Allah, bahkan sebelum
doa itu, kita selalu mengucapkan bahwa hanya kepada Allahlah kita
menyembah dan hanya kepada Allahlah kita meminta pertolongan, hal ini
membuktikan bahwa untuk menempuh jalan yang lurus itu tidak mudah. Jalan yang
lurus itu tidak pernah kita dapatkan disaat hati kita kotor penuh dengan dosa, hati dikatakan nurani apabila hati tersebut
bersih. Sebaliknya dosa identik dengan kekotoran dan kegelapan, dalam istilah
Al-Quran orang yang jahat, berbuat dosa biasanya disebut zhalim, kemudian apa hubungannya dengan hati? Hubungan tersebut ada
pada perbuatan jahat yang dapat
menyebabkan hati seseorang gelap, bahkan Al-Ghazali dalam Ihya
Ulumuddin, mengumpamakan orang yang mempunyai kecerdasan hati nurani adalah
semisal orang yang mempunyai cermin, selama
cermin itutehindar dari karatan dan kotoran maka dengan cermin itu ia
akan mampu melihat segala sesuatu. Sebaliknya bila kaca itu berkarat dan penuh
debu dan dibiarkan kotor dan berkarat maka, ia akan menjadi gelap dan akhirnya
membuat ia binasa. Nabi bersabda,”Sesungguhnya hati itu berkarat seperti besi yang
berkarat. Ada yang bertanya, “Bagaimana menghilangkannya?” Beliau menjawab,
“Mengingat mati dan membaca Al-Quran.
Menurut
Rasulullah tingkat kecerdasan hati nurani ada empat, yaitu, kecerdasan nurani
yang bersinar seperti lampu, semua kegelapan hilang, semua menjadi jelas dan
tenang dan kecerdasan hati nurani itu
adalah milik orang mukmin. Kecerdasan hati
yang gelap dan terbalik, hatinya tidak mampu membedakan yang baik dan buruk,
baik dianggap buruk, dan
yang buruk dianggap baik, perbuatan yang bernilai pahala dianggap dosa, perbuatan yangbernilai dosa dianggap
berpahal, singkatnya dalam menghadapi
sesuatu selalu terbalik. Dan kecerdasan itu adalah milik orang kafir,
yang tidak mampu mendengarkan hati nuraninya. Kecerdasan hati yang tertutup dan terikat oleh tutupnya,
itulah kecerdasan hati orang munafik,
hidupnya penuh kepura-puraan, tidak konsisten antara perkataan dan perbuatan,
selalu menghianati amanat dan mungkir janji
bila berjanji. Selanjutnya kecerdasan hati yang berlapis, dalam hal ini
keimanan seseorang masih bercampur
dengan sifat munafik, sehingga kecenderungan kecerdasan hati nuraninya selalu
labil dan tidak konsisten, saat tertentu ia mendengarkan hati nuraninya, dan
waktu lain ia mengabaikan hati nuraninya.
Apabila
kecerdasan hati nurani hilang pan kitdalam diri seseorang, maka kecerdasan
tersebut berubah menjadi kecerdasan hati zulmani. Karakteristik ari kecerdasan
hati zulmani adalah jika ia berbuat jahat, ia tidak merasa bebuat jahat, dan ia
biasanya selalu mampu mencari solusi untuk membenarkan perbuatan jahat/buruknya
itu, sehingga terlihat seprti baik. Maka apakah orang yang dijadikan setan
menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu dia meyakini pekerjaan itu
baik,(sama dengan orang yang tidak ditipu oleh setan)? Maka sesungguhnya Allah
menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang Dia
kehendaki-Nya, maka janganlah dirimu binasa karena bersedih terhadap mereka.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan(QS. Faathir: 8)
Kalau kita perhatikan dalam kehidupan
sehari-hari maka akan kita temui orang-orang yang mempunyai kecerdasan hati
zulmani tersebut, biasanya mereka ini tidak mengindahkan hokum-hukum Allah,
mereka yang mempunyai kecerdasan hati zulmani cenderung menuhankan keinginannya
sendiri tanpa mengindahkan hokum Allah dan kepentingan manusia. Sebenarnya
orang yang kehilangan kecerdasan hati nurani, telah terjebak pada institusi
yang didirikan oleh setan, makanya tidak heran kalau mereka ini(yang dihasilkan
dari institusi setan ) akan mempunyai kecerdasan hati zulmani, yaitu
kecerdasan hati yang gelap, memang
sangat wajar kalau ia mempunyai kecerdasan hati zulmani karena ia didik dan
digembleng oleh institusi yang didirikan
oleh setan. “Dan orang-orang yang kafir/ingkar pelindung-pelindungnya adalah
setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan. Dan mereka itulah
penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya”(QS.Al-Baqarah: 257). Orang-orang
yang mempunyai kecerdasan zulmani telah mengabaikan dan mengingkari himbauan
dan peringatan Allah, bahwa hendaknya manusia itu benar-benar masuk institusi
Islam/agama Islam dengan kaffah/menyeluruh, dan kita juga diberikan informasi
yang jelas bahwa seseorang yang masuk
institusi yang dilindungi oleh Allah/
berislam secara kaffah, maka Allah akan mengeluarkan seseorang dari
kecerdasan hati zhulumani
kepada kecerdasan hati nurani/cahaya. Allah pelindung orang-orang yang beriman, Dia
mengeluarkan mereka dari kegelapan(zhulumat) kepada cahaya.(nur),(QS.
Al-baqarah: 257).
Tatanan
masyarakat dunia hancur akibat orang-orang yang mempunyai kecerdasan hati
zhulmani, mereka telah berbuat jahat,
akan tetapi ia menganggap perbuatannya itu baik, ketika seseorang telah seperti
ini, maka ia telah menapaki jalanan menurun sebagai hamba Allah, derajatnya
mendekati titik nadir sebagai makhluk Allah, ia tidak lagi menjadi
khalifah di muka bumi, kehidupannya
sia-sia, perbuatannya semua sia-sia, an akhirnya ia mengalami kebangkrutan
ruhani. Untuk orang seperti ini, Allah menegur keras dalam Al-Quran,”Katakanlah:”Apakah
akan Kami beritahukan kepadamu tentang oaring-orang yang paling merugi
perbuatannya?”Yaitu orang-orang yang
telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka
menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.”(QS. Al-Kahfi: 103-104). Dalam ayat lain Allah
menegaskan bahwa ketika seseorang telahdiciptakan dengan sebaik-baiknya, tetapi
ia tidak menggunakannya untuk mengimani, mengabdi dan beramal soleh karena
Allah maka, ia termasuk orang yang merugi, dia akan diturunkan derajatnya ke
tempat yang paling renadh yaitu neraka. Sesungguhnya Kami telah menciptakan
manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya(jasmani dan rohani). Kemudian Kami
kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya/sehina-hinanya (neraka).
Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal soleh/kebaikan, maka bagi
mereka pahala yang tiada putus-putusnya. (QS. At-Tin: 4-6).
Langkah menuju
jenjang kecerdasan ruhani adalah dengan banyak membaca Al-Quran, salat malam,
mendalami ilmu agama/berkumpul dengan orang soleh, sering puasa dan banyak
berzikir kepada Allah.Ingatlah hanya dengan mengingat Allah hati menjadi
tenang.(QS. Ar-Ra’du: 28). Allahu a’lam
bisawwab.**

0 komentar: