Tampilkan postingan dengan label Al Qoran. Tampilkan semua postingan

Mendidik Anak Menurut Al-Quran

 

Dan (Ingatlah) ketika Luqman Berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar (QS. Lukman: 13). Dari ayat tersebut dapat kita ambil pokok pikiran sebagai berikut, pertama orang tua wajib memberi pendidikan kepada anak-anaknya. Kedua dalam mendidik  prioritas pertama adalah penanaman akidah, pendidikan akidah diutamakan agar menjadi kerangka dasar dan landasan dalam membentuk pribadi anak yang soleh.

Dalam mendidik hendaknya menggunakan pendekatan yang bersifat kasih sayang, hal ini dapat kita cermati dari seruan  Lukman kepada anak-anaknya, yaitu “Yaa Bunayyaa” (Wahai anak-anakku), seruan tersebut menyiratkan sebuah ungkapan yang penuh muatan kasih sayang, sentuhan kelembutan dalam mendidik anak-anaknya. Indah dan menyejukkan. Kata Bunayya, mengandung rasa manja, kelembutan dan kemesraan, tetapi tetap dalam koridor ketegasan dan kedisplinan, dan bukan berarti mendidik  dengan keras.

Mendidik anak dengan keras hanya akan menyisakan dan membentuk anak berjiwa keras, kejam dan kasar, kekerasan hanya meninggalkan bekas yang mengores tajam kelembutan anak, kelembutan dalam diri anak akan hilang tergerus oleh pendidikan yang keras dan brutal. Kepribadian anak menjadi kental dengan kekerasan, hati, pikiran, gerak dan perkataannya jauh dari kebenaran dan kesejukan.

            Kelembutan, kemesraan dalam mendidik anak merupakan konsep Al-Quran, apapun pendidikan diberikan kepada anak hendaknya dengan kelembutan dan kasih sayang. Begitu  juga dalam prioritas mendidik diutamakan mendidik akidahnya terlebih dahulu, dengan penyampaian lembut dan penuh kasih sayang. Mudah-mudahan anak akan tersentuh dan merasa aman di dekat orang tuanya, kenapa dalam mendidik perlu diutamakan akidah terlebih dahulu? Kenapa tidak yang lain? Jawabnya adalah karena akidah merupakan pondasi dasar bagi manusia untuk mengarungi kehidupan ini. Akidah yang kuat akan membentengi anak dari pengaruh negatif kehidupan dunia. Sebaliknya kalau akidah lemah maka tidak ada lagi yang membentengi anak dari pengaruh negatif, apakah pengaruh dari dalam diri, keluarga, maupun masyarakat di sekitarnya.

            Kenapa  harus akidah? Karena  dengan akidah anak selamat dunia dan akherat, akidah adalah modal dasar bagi anak menapaki kehidupan, dapat dibayangkan apa yang terjadi jika seorang anak tidak mempunyai akidah yang kuat, pasti anak-anak itu akan mudah terserang berbagai virus-virus kekejian, kemungkaran, kemunafikan, dan kemaksiatan kepada Allah, imunitas keimanan anak akan lemah, dan pada akhirnya anak terjebak dalam kelamnya dunia ini. Terbawa arus deras gelapnya kehidupan, tenggelam dalam kubangan kemaksiatan, kegersangan hidup dan kesengsaraan batin.

Akidah adalah asas untuk membangun Islam. kalau asasnya sudah bagus maka Islam akan tegak dalam diri anak, kenapa dewasa ini banyak anak-anak yang tidak tegak agamanya, tidak kuat akidahnya sehingga banyak terjadi penyelewengan, semua itu terjadi akibat pemahaman akidah yang dangkal, sehingga mudah goyah pendiriannya dan akhirnya roboh. Memang kalau kita perhatikan orang tua jaman sekarang tidak banyak yang menekankan pendidikan akidah  kepada anak-anaknya. Orang tua tidak merasa sedih dan takut kalau anaknya terjebak kepada keimanan yang rapuh, orang tua tidak pernah mengeluh kalau anaknya tidak membaca Al-Quran, menghafal Al-Quran, tetapi orang tua akan marah kalau anaknya tidak pergi les matematika, les fisika, les komputer, orang tua tidak merasa takut kalau anaknya tidak pergi mengaji, bayaran iuran mengaji terlambat, orang tua khawatir kalau anaknya belum bayar iuran bulanan les matematika, fisika dan lain sebagainya. Kenyataan tersebut menunjukkan bahwa sikap orang tua terhadap pendidikan masih tebang pilih, kurang adil dalam mendidik anak-anaknya, para orang tua terkesan berat sebelah, padahal pendidikan seharusnya diterima anak secara utuh, baik pendidikan yang berupa keduniaan dan keakheratan, di antaranya adalah pendidikan akidah.

            Untuk itu, langkah awal dalam mendidik anak adalah penanaman akidah, tidak yang lain. Kalau akidah anak sudah kuat maka apa saja bangunan keahlian yang akan di dirikan dalam diri anak akan kokoh, apakah menjadi tentara, polisi, dosen, pengusaha, ilmuwan dan lain sebagainya. Kalau akidah sudah kuat, kalaupun menjadi polisi ia akan menjadi polisi yang beriman, tentara beriman, hakim beriman, ilmuwan beriman, presiden yang beriman, yang pasti pondasi keimanan akan bersemayam dalam dirinya.

 Dalam ayat di atas, juga tergambar bahwa mendidik anak bukan hanya tanggung jawab ibu tetapi juga menjadi tanggung jawab bapak. Selama ini kebiasaan dalam masyarakat kita dalam mendidik anak lebih berat kepada kaum ibu, dengan alasan ibulah yang sering bertemu dan bercengkerama dengan anak, sedangkan bapak lebih diidentikkan dan diposisikan sebagai kepala rumah tangga, lebih khusus  diletakkan pada tanggung jawab dalam aspek ekonomi dan finansial sedangkan aspek edukasi terabaikan. Sehingga yang terjadi adalah  peran bapak dalam mendidik anak terabaikan, akibat lebih jauh adalah anak menjadi kurang interaksinya dengan bapaknya, anak akan mendekat dan bertemu wajah dan berbicara dengan bapaknya kalau ada perlu, ketika akan meminta uang jajan. Padahal, dalam konsep Al-Quran peran bapak dalam mendidik anak sangat besar, hal ini dapat kita cermati dari peran Lukman dalam mendidik anak-anaknya. Peran Yaqub dan Ibrahim dalam mendidik anak-anaknya. Untuk  itu sudah saatnya orang tua mulai berbagi dan berkerjasama dalam mendidik anak, perlu duduk bersama membicarakan langkah dan metode yang tepat untuk anak-anaknya.

            Setelah akidah anak kuat, orang tua perlu menekankan pendidikan pada aspek ibadah seperti salat, berdakwah dengan memberi contoh terlebih dahulu, seperti mencegah diri dari yang mungkar dan selalu melakukan kebaikan. Setelah itu memberi nasehat kepada orang lain untuk meninggalkan kemungkaran dan mengerjakan kebaikan. Dan yang tidak kalah penting adalah sabar dalam menghadapi cobaan hidup. Sebab hidup itu ibarat di lautan, kadang-kadang ombak besar dan menggila dan menghempaskan kapal kita, lain waktu lautan menjadi sangat bersahabat sehingga kapal kita dapat berlayar dengan tenang tanpa gangguan. Demikian juga hidup, tidak selamanya bahagia, tidak selamanya sedih, kadang dalam kemiskinan, terkadang dalam keadaan kaya. Untuk itu sebagai orang tua yang bijak perlu mendidik anak-anaknya untuk bersabar menghadapi berbagai cobaan hidup. Allah berfirman,”Hai anakku, Dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan Bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).”(QS. Lukman: 17)

            Ayat di atas, memberi pengajaran kepada para orang tua untuk selalu memantau salat anak, apakah salatnya sudah dilaksanakan dengan baik, lengkap syarat, rukunya, apakah salatnya sudah dilaksanakan liam kali seharisemalam, atau masih ada yang tinggal? Orang tua di tuntut untuk peduli terhadap ibadah salat anaknya. Sebab salat adalah tiang agama, kalau anak-anaknya telah mendirikan salat dengan baik dan benar rukun syaratnya, berarti anak-anak kita telah menegakkan agama, sebaliknya kalau anak-anak kita masih banyak meninggalkan salat, salatnya masih asal-asalan, maka anak-anak kita telah mulai meruntuhkan agama. Akibat dari tidak terkontrolnya salat anak oleh orang tua akan berujung kepada lahirnya sikap acuh terhadap kebaikan dan mendekat dan tertariknya untuk melakukan kemungkaran. Karena  pada dasarnya mendirikan salat mencegah seseorang dari perbuatan keji dan mungkar.”Bacalah apa yang Telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan Dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”(QS. Al-Ankabut:45).

            Orang  tua yang berperan mendidik dan mengontrol salat anak-anaknya, penekanan dalam mendidik anak setelah akidah adalah mendirikan salat, setelah salat didirikan, maka dilanjutkan dengan mengarahkan pada pendidikan dakwah, penyampaian kebenaran dan pencegahan kemungkaran. Menyebarkan  kebaikan, dan memberantas kemungakaran, baik dengan cara memberi contoh, dengan lisan, maupun perbuatan. Menanamkan  dalam diri anak untuk selalu sabar menghadapi berbagai cobaan kehidupan dengan sabar semua akan menjadi baik, dengan sabar pikiran menjadi cemerlang, dengan sabar akan banyak jalan penyelesaian, sebab hanya dengan sabar orang akan terselamatkan, dengan sabar manusia menjadi dekat dengan Tuhan, karena kesabaranlah Allah menjadi cinta.

            Dan tidak kalah pentingnya adalah mendidik akhlak anak. Orang tua yang sadarkan pentingnya kepribadian anak-anaknya akan berusaha menjadi teladan yang terbaik bagi anak-anaknya. Baik dalam perkataan maupun perbuatan, dalam taraf perkembangan jiwa dan kepribadiannya, anak meniru apa yang dilihatdan dengar. Kalau orang tua kurang hati-hati dalam bertindak dan bertutur kata, hingga anak-anaknya mengetahui dan mendengar, maka anak secara reflek akan meniru apa yang dilakukan oleh orang tuanya. Maka  benar kata Rasulullah Saw bahwa anak terlahir dalam keadaan fitrah orang tuanya yang akan membentuk  anak-anaknya, apakah menjadi Nasrani, Yahudi maupun Majusi, menjadikan anak yang soleh, berakhlak mulia atau berakhlak buruk. Peran  orang tua sangat besar terhadap pembentukan karakter kepribadian anak-anaknya. Di sisi lain, masyarakat sekitar dan pendidikan juga memberi andil yang besar dalam membentuk karakter dan akhlak anak, untuk itu para orang tua hendaknya lebih-hati-hati dan selektif dalam mencarikan lingkungan bermain dan pendidikan untuk buah hatinya.

Paparan di atas, dapat dipahami beberapa hal penting, pertama, mendidik menjadi tanggung jawab kedua orang tua. Kedua, pendidikan pertama yang harus diberikan kepada anak adalah penanaman akidah yang benar. Ketiga,  setelah pendidikan akidah, langkah pendidikan berikutnya adalah mendidik anak agar mencintai dan mendirikan salat lima waktu dengan sadar tanpa ada paksaan. Keempat, mendidik anak untuk berjiwa pendakwah, yaitu suka memberi contoh dalam berbuat baik dan meninggalkan kemungakaran. Kelima, menekankan pendidikan kepada aspek akhlak yang mulia, seperti, sabar, qanaah, tawadhu, dermawan dan akhlak mahmudah lainnya. Allahu A’lam.

 

 

 


KONSEP ADIL DALAM AL-QURAN

 

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil,”(QS. Al-Mumtahanah: 8). Berbuat adil adalah sifat mulia yang disukai oleh Allah, Secara konsep keadilah adalah memberikan hak kepada pemiliknya tanpa memihak, tanpa diskriminasi, kemudian meletakkan sesuatu sesuai porsinya. Secara konsep definisi keadilan begitu enak dibaca dan didengar, pertanyaannya adalah apakah keadilan sudah terwujud dalam kehidupan kita? Banyak orang secara konsep mengetahui dan menguasai, bahkan semua yang berhubungan dengan keadilah ia tahu, tetapi dalam tataran  kehidupan ia belum mampu mengejawantahkannya. Yang mengatahui konsep keadilan belum mampu menjalankan, apalagi yang buta masalah hokum tentu akan makin jauh dari sikap adil?

Memang, permasalahan muncul bukan pada tataran pemahaman adil secara konsep, melainkan merujuk kepada aspek aplikasi, terkadang seseorang secara konsep paham dan hafal apa itu keadilan, tetapi perbuatannya jauh dari sikap adil itu sendiri. Kenapa hal ini terjadi? kemungkinan kesengajaan, merasa berat untuk berbuat adil.

Atau,  tidak berlaku adil karena terpaksa, atau terpaksa berpura-pura masa bodoh terhadap tegaknya suatu keadilan? Terkadang, demi keuntungan pribadi, kelompok, kita rela mengadaikan keadilan, kita rela menzalimi orang lain, bahkan dengan bengis dan tanpa perasaan kita korbankan nyawa orang lain untuk menyembunyikan kebusukan kita, orang yang berusaha berjuang demi keadilan kita bungkam dan kita kebiri.

 Tidak itu saja, karena kedengkian dan kebencian kepada suatu kaum atau golongan tertentu membuat seseorang tidak berlaku adil. Ironinya kita sendiri sebagai aparat penegak keadilan, penegak hokum, kita bukan menjadi panutan dalam menegakkan hokum, contoh dalam memancangkan keadilan di bumi ini, malah sebaliknya kita sendiri yang menghianati dan memberangus keadilan di tengah masyarakat, padahal kita di perintahkan oleh Allah untuk berlaku adil dan menjadi saksi yang adil.

Meskipun  demikian, kebencian di hati hendaknya tidak membuat kita tidak berlaku adil, di sisi lain, kita tidak dibenarkan menghianati keadilan, bila kita mampu menegakkan keadilan, mampu menjadi saksi yang adil, maka menegakkan keadilan adalah suatu pilihan meskipun pahit,”Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan,” (QS. Al-Maidah: 8).

Terkadang, kita sedih melihat aparat penegak hokum kita, hanya demi keuntungan sedikit, mereka rela menjual hokum, menjual keadilah, membenamkan keadilan dan mengorbankan orang lain demi keuntungan pribadi. Seperti saling suap dan menyuap agar terbebas dari jeratan hokum, padahal penyuap dan penerima suap sama-sama masuk neraka,”orang yang menyuap dan menerima suap sama-sama masuk neraka,”(HR. Bukhari). Dalam hadis yang lain, Nabi Saw. mengatakan bahwa Allah melaknat orang yang menyuap dan meneriam suap,”laknat Allah itu atas orang yang menyuap dan yang menerima suap,”(HR. Al-Khamsah).

Konsep keadilan dalam Al-Quran dan hadis memp[osisikan diri secara jelas tanpa kompromi dan diskriminasi, kita diperintahkan semaksimal mungkin untuk selalu obyektif terhadap keputusan yang akan diambil. Menghindari sikap sentimen  kesukuan, kebencian dalam memutuskan suatu perkara sehingga dapat bersikap adil, apabila seseorang berlaku adil maka ia akan lebih dekat kepada kebajikan yang sempurna, sebaliknya jika tidak berlaku adil maka kebajikan akan makin jauh dari kehidupan kita.

Namun, banyak orang merasa tidak mendapatkan keadilah hokum dinegeri ini, walaupun banyak pengadilan, tetapi keadilan masih langka, keadilan masih seperti barang langka yang susah untuk dicari, ada juga yang mengatakan hokum dapat dibeli, siapa yang banyak memberi ujang dialah yang akan mendapat keadilan menurut keinginannya sendiri, sesuai versinya sendiri, keadilan hanya menjadi komodititas bisnis dan mesin penghasil uang.

Adil adalah perintah Allah Swt. “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan,” (QS. An-Nahl: 90). Meskipun berbuat adil bagian dari perintah Allah, tetapi banyak di antara manusia yang mengabaikan berbuat adil, mereka berkecenderungan berbuat kecurangan, kezaliman, kelaliman  demi keuntungan pribadi, kelompok, dan golongan tertentu, bahkan demi  etnis tertentu. Padahal Allah mengancam bagi para pembelot dari kebenaran dan keadilan dengan  ancaman neraka,”Adapun orang-orang yang menyimpang dari kebenran maka mereka menjadi kayu api bagi neraka jahanam,”(QS. Al-Jin: 15).

Perlu kiranya kita membuka kembali sejarah kehidupan Rasulullah Saw. Ibnu Ishaq menceritakan,” Rasulullah Saw. Telah berlaku adil pada beberapa barisan sahabat di Hari Badar. Beliau memegang sebuah gelas untuk berlaku adil di antara kaum, kemudian lewat di depan sawad bin Ghazyah [sekutu Bani Adi Bin najar yang keluar dari barisan]. Beliau memukul perut Sawad dengan gelas itu dan berkata,’Luruskan, ya Sawad!’ Setelah itu, Sawad berkata,’Ya Rasulullah, saya sakit oleh Engkau, sedang Allah telah mengutu Engkau dengan hak dan adil, maka biarkanlah saya marah, kemudian membalas perbuatan Engkau-Rasul Saw. Membuka perutnya dan berkata,’Balaslah (aku)!’ Maka Sawd memeluk rasulullah Saw. Lalu mencium perutnya maka beliau bertanya kepada Sawad,’Apa yang membuatmu seperti ini, ya Sawad?’ Ia menjawab,’Ya Rasulullah, sebagaimana Engkau lihat, saya ingin menjadikan pertemuan  terakhir dengan Engkau  ini, kulit saya bersentuhan dengan kulit Engkau.’ Maka Rasulullah mendoakan kebaikan bagi Sawad.” (Sirah Ibnu Hisyam, 2:456).

Suatu saat, Makhzumiyah mencuri, kemudian dibela oleh Usamah bin Zaid agar bebas dari hukuman potong tangan. Ketika Rasulullah Saw. mengetahui  peristiwa tersebut, Rasulullah marah dan berkhotbah,”Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian telah binasa. Jika orang yang terhormat yang mencuri, mereka membiarkannya, sedangkan bila yang mencuri orang lemah mereka tegakkan hokum kepadanya. Demi Allah, seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya aku potong tangannya,”(HR. Muslim).

Sebagai seorang Rasul Allah, Nabi Muhammad Saw. memberi contoh bagaimana berbuat adil, Beliau melindungi sahabatnya agar tidak terpukul, melindungi darah agar tidak tercecer, melindungi  harta mereka agar tidak dijarah, melindungi kehormatan agar tidak dilecehkan, diambil, melindungi hak-hak mereka agar tidak dirampas. Contoh-contoh tersebut hendaknya menjadikan kita lebih dekat kepada sikap untuk konsekuen di jalan keadilan.

Di antara bidang keadilan yang dapat kita temui dalam  Al-Quran adalah sebagai berikut sebagai berikut:

Pertama, adil terhadap diri sendiri, dengan cara tidak  berbuat yang menjerumuskan diri mendapat azab Allah.”Dan barang siapa yang melanggar hukum-hukum Allah, maka sesungguhnya dia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri,”(QS. Ath-Thalaq: 1). Padahal kezaliman adalah suatu perbuatan yang bertentangan dengan keadilan. Nabi Ibrahim  As dan Hawa berbuat zalim terhadap dirinya, mereka berdua mengakui kalau diri mereka telah berbuat zalim.”Mereka berdua berkata,”Ya Rabb kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri,”(QS. Al-araf: 23). Sebenarnya ketika kita berbuat zalim terhadap diri sendiri, maka sikap zalim kita tersebut termasuk perbuatan tidak adil.

Kedua, adil dalam keluarga, laki-laki  menikah lebih dari satu, syarat yang harus dipenuhi  adalah sikap adil terhadap mereka, jika sikap adil tidak terpenuhi maka menurut konsep Al-quran, lebih baik menikahi seorang istri saja (QS. An-Nisa: 3). Dalam berkeluarga, beristri keadilan juga menjadi acuan, terutama bila seseorang ingin berpoligami, dalam memberi nafkah keluarga dan anak-anak kita-pun dituntut untuk berlaku adil..

 Ketiga, adil terhadap anak  yatim.”Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu  senangi,”(QS. An-Nisa: 3). Ketika kita dekat dengan anak yatim atau bahkan mengurus kepentingan anak yatim di situ godaan untuk menghianati  harta dan amanh-amanah orang lain untuk anak yatim terbuka lebar, untuk Allah berpesan kepada kita agar berhati-hati dan selalu ÿÿngutamakan keadilan dfalam mengurus anak yatim.

Keempat, adil terhadap ahli kitab, Ketika para ahli kitab dalam keraguan, kita sebagai umat Islam disuruh oleh Allah  untuk menyeru mereka, dan kita disuruh untuk mengatakan beriman pada semua kitab-kitab Allah dan berlaku adil terhadap mereka.(QS. Asy-Syura: 14-15). Kita juga tidak dilarang untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap mereka yang tidak memerangi kita (QS. Al-Mumtahanah: 8). Meskipun kita berbeda dalam keyakinan dengan mereka, tetapi semua itu tidak menyurutkan kita untuk tidak berlaku adil, sebab berlaku adil kepada mereka adalah perintah Allah yang wajib kita laksanakan, memang akan terasa berat untuk melakukannya, tetapi disitulah letak perjuangan kita dalam menegakkan keadilan.

 Kelima, adil dalam transaksi perdagangan.”Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil,”(QS. Al-An-am: 152). Terkadang kita meremehkan tentang keadilan dalam menakar dan menimbang, padahal Allah menyuruh kita untuk berlaku adil terhadap hal tersebut. Banyak masyarakat kita terutama yang berdagang dan sering mengguanakan alat Bantu berupa timbangan, mereka sering tergoda untuk mengambil keuntungan dengan mengurangi timbangan dan takaran. Bahkan demi keuntungan yang sedikit kita rela mengorbankan konsumen dengan mengurangi kualitas dan takaran, padahal perbuatan itu dilartang oleh agama kita.

 Keenam, adil dalam memutuskan perkara,”Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang, maka damaikanlah keduannya…dengan (keputusanyang ) adil. Dan berlaku adillah sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil,”(QS.Al-Hujarat: 9). Ketujuh, Adil dalam hokum.”Dan jika kamu memutuskan perkara mereka, maka putuskanlah (perkara itu) di antara mereka dengan adil, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil,”(QS. Al-Maidah: 42). Allahu a’lam bisawwab.


Keutamaan Membaca Al-Quran

 

            Al-Quran mempunyai berbagai keutamaan dan kesempurnaan, salah satunya adalah keutamaan yang diperoleh bagi pembacanya. Sebagai wahyu terakhir Al-Quran mempunyai kelebihan, kelebihan tersebut tidak dimiliki oleh kitab-kitab Allah sebelumnya, di antaranya Allah berjanji menjaga dan memeliharanya,”Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Quran, dan sesungguhnya Kami memeliharanya,”(QS. Al-Hijr:9). Dalam ayat lain Allah mengatakan bahwa Al-Quran mempunyai nilai tinggi dan mengandung banyak hikmah,”Dan sesungguhnya Al-Quran dalam induk Al-Kitab(Lauh Mahfudz) di sisi kami adalah tinggi nilainya dan mengandung banyak hikmah,”(QS. Az-Zukruf:4).

            Memang, kalau kita telusuri banyak hadis  yang menginformasikan keutamaan bagi yang membaca Al-Quran, informasi ini mungkin belum banyak kita/umat Islam yang tahu, sehingga untuk membaca Al-Quran masih enggan, mereka lebih suka membaca Koran, majalah, dan karya ilmiah, sedangkan untuk membaca Al-Quran, banyak di antara kita tidak ada waktu untuk membaca al-Quran. Kalaupun kita membaca Al-Quran mungkin seminggu sekali, bahkan terkadang kita membaca Al-Quran hanya kalau ada orang meninggal dunia saja. Al-Quran sering menjadi pajang di etalase ruang tamu, meletakkan Al-Quran di atas lemari yang tidak terlindungi sehingga terlihat kotor, kusam dan berdebu. Padahal Al-Quran bukan hanya untuk pajangan tetapi untuk di baca, dipelajari dan di amalkan

            Untuk itu, perlu kiranya kita mengetahui manfaat dan keutamaan membaca Al-Quran, kenapa kita perlu mengetahui keutamaan dan keuntungan terhadap apa yang akan kita kerjakan? Pertanyaan  ini wajar kita utarakan, sebab dengan mengetahui keuntungan dan keutamaan apa yang akan kita kerjakan, akan menjadikan diri kita bersemangat untuk melakukannya, kita juga akan merasa rugi jika tidak melakukannya, atau meninggalkan pekerjaan itu. Dalam konsep Quantum Learning dinyatakan bahwa kalau kita ingin mengerjakan sesuatu perlu merumuskan tujuan, salah satu tujuan tersebut adalah mencari manfaat dari apa yang akan kita lakukan, jadi kalau kita ingin melakukan sesuatu, sedangkan sesuatu itu tidak memberi manfaat maka akan  timbul keengganan dan malas.

            Demikian juga, apabila kita tidak mengetahui manfaat membaca Al-Quran kita akan malas untuk membaca Al-Quran tersebut, untuk itu mengetahui keutamaan membaca Al-Quran menjadi penting agar kita menjadi bersemangat untuk melakukannya dan terus membacanya, dan yang lebih penting adalah menjadikan Al-Quran sebagai bacaan utama dalam keseharian kita, pendeknya tiada hari tanpa membaca Al-Quran, kalau selama ini kita telah membiaasakan tiada hari tanpa olah raga, tentunya kita dapat pula menerapkan semboyan tiada hari tanpa membaca Al-Quran.

            Keutamaan dalam membaca Al-Quran dapat kita temukan dalam hadis Nabi Saw, di antaranya adalah akan mendapat syafaat pada hari kiamat,”Bacalah al-Quran. Karena ia pada hari kiamat nanti akan datang untuk memberikan syafaat kepada para pembacanya,”(HR. Muslim). Dalam hadis lain dikatakan bahwa orang yang paling baik adalah orang yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya,”Orang yang  paling baik di antara kalian adalah yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya,”(HR. Bukhari). Membaca Al-Quran merupakan salah satu ibadah yang paling utama,”Yang paling utama dari ibadah ummatku adalah membaca Al-Quran,”(HR. Baihaqi).

            Ketika kita membaca Koran atau majalah kita hanya akan dapatkan informasi, tetapi kita tidak akan pernah mendapatkan pahala perhuruf dari membaca Koran, berbeda dengan membaca Al-Quran, membaca Al-Quran selain mendapatkan informasi tentang wahyu Allah dan perintah Allah , kita juga akan mendapatkan pahala dari membacanya, hebatnya kita akan mendapatkan pahala perhurufnya,”Barangsiapa membaca satu huruf dari kitab Al-Quran, maka ia memperoleh pahala satu amal kebajikan, dan pahala satu kebajikan dilipatkan sepuluh kali. Saya tidak mengatakan bahwa Alif-lam-mim itu satu huruf, tetapi Alif adalah satu huruf, lam  adalah satu huruf, dan mim juga satu huruf,(HR. Tirmidzi).

            Hebatnya, orang yang suka membaca Al-Quran akan selalu bersama para malaikat, sedangkan yang membacanmya masih terbata-bata akan mendapatkan dua pahala,”Orang yang membaca Al-Quran dan ia pandai (hafal) dalam membacanya, ia akan bersama para malaikat yang menjadi utusan, yang mulia lagi suci. Sedangkan orang yang membaca Al-Quran tetapi ia terbata-bata kesulitan, serta kesukaran dalam membacanya, ia akan memperoleh dua pahala,”(HR. Bukhari).

            Bahkan, membaca Al-Quran akan mendatangkan ketentraman dan rahmat. Dewasa ini banyak orang mencari ketentraman dengan berlibur ke pelosok-pelosok daerah, tempat yang sepi, tempat-tempat rekreasi, dan hiburan, ada juga orang yang merasa tentram ketika patuh pada atasan, dan menjilat atasan agar mendapat rahmat berupa jabatan, padahal kalau kita tahu dengan membaca Al-Quran kita akan mendapatkan ketentraman dan rahmat yang banyak dari Allah, Allah juga akan mengirimkan para malaikat untuk menjaga kita, di samping itu kita menjadi terkenal di kalangan para malaikat”Tidak ada orang-orang yang berkumpul di salah satu rumah Allah untuk membaca dan mempelajari Al-quran, kecuali mereka akan memperoleh ketentraman, diliputi rahmat, dikitari para malaikat, dan mereka disebut-sebut oleh Allah di kalangan malaikat.”(HR. Muslim).

            Ironinya, banyak orang menginginkan anugerah dan penghargaan dari pemerintah dan pemimpin bangsa ini, tetapi sedikit yang berharap anugerah terbesar dari Allah, padahal Allah menjanjikan anugerah terbaik bagi para pembaca Al-Quran,”Barang siapa selalu membaca Al-Quran dan dzikir kepada-Ku sehingga ia tidak sempat memohon apa-apa kepada-Ku, maka ia akan kuberi anugerah yang paling baik, yang diberikan kepada orang-orang yang memohon kepada-Ku,”(HR. Timidzi). Untuk itu perlu kita berfikir kembali untuk mengejar anugerah dan penghargaan atasan, atau pemerintah, sebab itu hanya akan menjadikan kita sengsara, carilah anugerah yang terbaik, penghargaan yang tertinggi yaitu dari Allah melalui gemar membaca Al-Quran. Kalau  kita ingin kaya maka hafallah Al-Quran,”Orang yang paling kaya adalah orang yang hafal Al-quran.”(HR. Ibnu Asakir).

            Banyak orang merasa takut ketika menjelang usia senja/tua, mereka takut akan pikun, takut seperti anak kecil, ketakutan yang sebenarnya tidak perlu terjadi karena pada dasarnya semua kita akan tua. Tetapi masalah kepikunan  tidak semua orang tua mengalaminya, hal ini akan menimbulkan pertanyaan kenapa? Rahasianya adalah dengan banyak membaca Al-Quran,”Dari Anas ra, bahwa Rasulullah Saw bersabda,”Pembaca Al-Quran itu tidak akan pikun,”(HR. Ibnu Asakir). Bahkan Allah menjanjikan kesehatan akal bagi pembaca Al-quran,”Barang siapa hafal Al-Quran, maka ia akan diberi kesehatan akal oleh Allah sampai ia meninggal dunia,”(HR. Ibnu Asakir). Allahu A’lam**


suroh Al fatihah

 

بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ ١ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ٢ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ ٣  مَٰلِكِ يَوۡمِ ٱلدِّينِ ٤ إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ ٥ ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ ٦ صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ غَيۡرِ ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَيۡهِمۡ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ ٧

1. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

2. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam

3. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

4. Yang menguasai di Hari Pembalasan

5. Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan

6. Tunjukilah kami jalan yang lurus

7. (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat


Louange à Allah, Seigneur de l´univers.

 

بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ ١ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ٢ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ ٣  مَٰلِكِ يَوۡمِ ٱلدِّينِ ٤ إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ ٥ ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ ٦ صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ غَيۡرِ ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَيۡهِمۡ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ ٧

1. Au nom d´Allah, le Tout Miséricordieux, le Très Miséricordieux.

2. Louange à Allah, Seigneur de l´univers.

3. Le Tout Miséricordieux, le Très Miséricordieux,