MEMAKNAI TAKDIR DALAM KEHIDUPAN
Tidaklah terjadi suatu peristiwa di muka bumi ini dan pada diri kamu sekalian, melainkan sudah ada dalam catatan sebelum Kami membeberkannya. Sesungguhnya hal itu bagi Tuhan perkara mudah (QS. Al-Hadid:22). Sungguh Tuhan tidak mengubah nasib suatu kaum sampai kaum itu sanggup mengubah apa yang ada pada dirinya.(QS. Al-Ra’du: 11). Secara sekilas kedua kutipan firman Allah di atas, menunjukkan pertentangan satu sama lain, ayat 22 surat Al-Hadid dengan jelas menginformasikan bahwa takdir adalah suatu kepastian, dalam arti nasib manusia sudah ditentukan oleh Allah sejak azali.
Sebagai
orang muslim yang taat pasti percaya akan adanya takdir Allah,
kepercayaan kepada takdir merupakan rukun iman yang keenam, hal ini berdasarkan
paham ahli sunnah wal jamaah, yang
meyakini bahwa percaya kepada takdir termasuk rukun iman, perlu juga diketahui
bahwa ada juga kelompok Islam yang lain (Mu’tazilah), kelompok Mu’tazilah
berpendapat jika Tuhan telah menentukan perbuatan manusia sejak azali, maka
Tuhan tidak adil, sebab orang yang ditakdirkan berbuat jahat masuk neraka,
sedangkan yang ditakdirkan berbuat baik masuk surga, kalau hal ini terjadi maka Tuhan tidak adil, maka menurut
menurutnya yang adil adalah manusia dihukum atau diberi ganjaran sesuai dengan
pilihanya apakah akan berbuat baik atau buruk.
Semua
muslim sudah kenal apa itu takdir, yang jelas takdir sangat erat kaitannya
dengan ketentuan Allah yang dirahasiakan dan tidak dapat ditolak oleh manusia.
Semua manusia dikuasai oleh takdirnya, maka tidak ada seorangpun yang dapat
lari dari takdir, untuk itu jalan terbaik dan paling selamat adalah menerima
takdir tersebut dengan lapang hati dan penuh kerelaan, karena sebaik-baik
manusia dalam menerima takdir adalah menerima dengan penuh keridaan/ kerelaan
dan kesabaran. Akan tetapi pemaknaan takdir yang salah akan mengantarkan
seseorang pada sikap menyerah atau fatalisme, maksudya adalah sikap jiwa yang
menyerah pada keadaan tanpa ada usaha, menyerah kalah sebelum berperang.
sebab
hokum-hukum Allah/takdir Allah membutuhkan usaha, kerja dan ikhtiar. Dan
hokum-hukum itu menjadi bermacam-macam
pilihan, alternatif-alternatif bagi
manusia, dari berbagai alternatif tersebut, tentu ada yang terbaik, maka untuk
memilih hal tersebut manusia diberi kebebasan untuk berikhtiar. Disinilah
manusia diberi peluang untuk mengubah nasibnya. Al-Quran menginformasikan pada ayat 11
surat Al-Ra’du, dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa nasib seseorang
tidak akan berubah sebelum kaum itu merubah dirinya (nasibnya). ayat 11
Al-Ra’du merupakan konsekuensi logisnya
dari surat Al-Hadid ayat 22, meskipun nasib seseorang telah ditetapkan oleh Allah, tetapi manusia/seseorang diberi kebebasan, peluang
dan pilihan untuk mengubah nasibnya yang telah ditentukan oleh Allah.
Proses
mengubah nasib atau takdir bukan suatu usaha yang mudah , tetapi perlu
mujahadah yang sungguh-sungguh, mujahadah
tersebut diwujudkan dengan berusaha dan berikhtiar. Usaha dan ikhtiar
tersebut hendaknya dilakukan dengan semaksimal mungkin, sebab usaha /kerja yang
baik akan menjadi doa yang tulus, sedangkan doa yang tulus akan menjadi sebuah
kerja yang bernilai baik bagi manusia di
hadapan Allah. Hal ter sebut menunjukkan bahwa antara usaha dan doa merupakan
dua hal yang bertautan dan menjadi sebuah kesatuan yang utuh, adanya usaha yang
disertai dengan doa merupakan gabungan kekuatan dahsyat, kekuatan energi yang
dimaksud adalah ikhtiar dan tawakkal, M. Amin Akkas mengatakan bahwa doa bukan
sekedar olah batin, tetapi juga olah
otot dan olah nalar, doa adalah gabungan antara ikhtiar dan tawakkal. Seorang
manusia dalam rangka mengubah nasibnya/takdirnya.
Kesempatan
mengubah nasib merupakan sikap merdeka yang di berikan Allah kepada manusia,
meskipun Allah telah menetapkan nasibnya, namun Allah juga masih memberi celah
dan kesempatan kepada manusia untuk menentukan nasibnya, hal ini dapat kita pahami dari ayat 11 Al-Ra;du tersebut.
Kesempatan mengubah nasi ini tentu memerlukan energi dan upaya yang serius,
sebab tanpa ada upaya yang serius dan sungguh-sungguh tentu apa yang
diinginan dan diupayakan akan tidak
maksimal, padahal Allah menurunkan
pertolongannya hanya kepada orang yang berpayah-payah dalam bermujahadah. Imam
Ali bin abi thalib pernah menegaskan bahwa Tuhan tidak akan pernah menurunkan
Tangan bantuan-Nya kepada kami, sebelum
Dia melihat kami bepayah-payah dalam berjuang. Perkataan Iman Ali
ini dalam realitas kehidupan banyak kita
temui, bahwa seseorang yang sukses dalam hal apapun selalu dilalui dengan
perjuangan yang sungguh-sungguh dan bersusah payah, fakta sejarah dalam
kehidupan ini memunculkan kata-kata bijak yang mengatakan berakit-rakit ke hulu
berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian,
kata bijak ini makin membuktikan dan menguatkan tesis di atas bahwa usaha yang
sungguh-sungguh biasanya akan mendapatkan hasil yang tidak mengecewakan, dan
Allah-pun tidak akan menyia-yiakan jerih payah hambanya yang berusaha mengubah
takdirnya, kalaupun gagal dalam proses mengubah takdir ia tidak putus asa, dan
di sinilah letak keimanan seseorang terhadap takdir Allah tersebut. Ketika
seseorang telah berusaha dengan maksimal disertai ikhtiar, doa dan tawakkal,
namun hasilnya tidak sesuai dengan harapan, maka disitulah takdir Allah telah
berlaku, disitulah kadar keimanannya sedang diuji.
Meskipun
demikian, kita tidak boleh hanya pasrah begitu saja dalam hidup ini, karena
merasa tidak ada gunanya berusaha, sebab semua sudah ditentukan oleh Allah,
semuanya sudah menjadi takdir, sikap dan pemahaman seperti ini akhirnya membawa
kita terjebak pada paham yang hanya nerimo(menerima/fatalisme)
tanpa ada usaha. Sebagai seorang beriman hendaknya tidak berpaham seperti itu, dengan hanya menerima tanpa ada usaha.
Kita dapat mengatakan bahwa segala sesuatu
telah menjadi takdir atau nasib bila peristiwa atau kejadian tersebut
telah terjadi, tetapi jika belum terjadi, maka kejadian yang menimpa belum dapat dikatakan sebagai takdir,
sebab dalam hal ini masih ada kesempatan
dan celah bagi manusia untuk mengubah nasib/takdirnya, celah dan kesempatan untuk mengubah nasib
tersebut adalah ikhtiar, usaha, doa dan tawakkal.
Memaknai
takdir bukan sekedar mengimani bahwa semua yang telah terjadi merupakan
kehendak dan dari Allah, namun lebih dari itu takdir dapat dimaknai sebagai
suatu ajaran yang mengembalikan segala sesuatu kepada Allah, dengan
mengembalikan segala sesuatu kepada Allah akan membentuk hati kita makin
tenang, menjadikan diri kita menjadi pribadi yang utuh. Keutuhan dan ketenangan
batin kita terjadi akibat efek spiritual yang spontan dari hati yang pasrah dan yakin kepada takdir
Allah, sebab segala segala sesuatu telah tertulis di dalam kitab( Lauh
Mahfuzh). Tiada suatu bencana yang menimpa di Bumi dan tidak pula pada dirimu
sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab(Lauh Mahfuzh) sebelum Kami
menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah. (QS.
Al-Hadid:22).
Memaknai
takdir bukan untuk hal yang belum
terjadi, akan tetapi untuk hal yang telah terjadi, apabila segala sesuatu telah
terjadi maka kita hendaknya mengimani dan memaknai peristiwa tersebut sebagai
takdir. Dengan pemahaman demikian diharapkan kita tidak putus asa dalam menerima kegagalan dan tidak sombong ketika mendapatkan kesuksesan,
terkadang kita dengan sombongnya membanggakan diri bahwa semua yang kita
peroleh, kesuksesan yang kita dapatkan adalah usaha kita, kemampuan kita,
kepandaian kita, sering peran
Allah seolah hilang dalam tataran keseharian kita, secara tidak sadar kita mengklaim diri kitalah yang menjadikan
kita sukses. Kalau hal ini terjadi pada diri kita, maka telah terjadi
pengingkaran kepada takdir.
Memaknai
takdir yang salah pasang akan menjerumuskan seseorang pada menuhankan diri
sendiri, semua karena dirinya sendiri sehingga Allah sebagai penguasa takdir
manusia dilupakan. Keadaan ini menjadikan hati kita jauh dari rasa tawadhu,
rasa kehambaan hilang dari diri kita, yang ada dalam diri kita adalah rasa kesombongan bila mendapatkan
kesuksesan, dan keputusasaan bila mendapat kegagalan, hal ini terjadi karena
Tuhan telah hilang dari diri kita. Tuhan
yang telah menentukan takdir telah kita
campakkan dalam lorong gelap kehidupan jiwa keangkuhan kita, nilai-nilai
spiritual dalam hati kita timbuni dengan kecintaan dunia yang fana ini, semua
hanya kita yang berperan Tuhan telah kita singkirkan dalam penentuan takdir.
Kita terlalu percaya bahwa kitalah yang
menentukan diri kita tidak ada peran tuhan dalam hidup kita.
Padahal,
kalau kita mau mengkaji lebih jauh
tentang takdir Allah, maka akan terlihat bahwa Allah membocorkan informasi
mengenai takdir adalah agar manusia menyadari bahwa semua peristiwa dan kejadian adalah dari Allah, dan akan
kembali lagi kepada Allah, sehingga bila terjadi sesuatu yang menyedihkan atau sesuatu kegagalan kita tidak keluhkesah,
tidak berduka cita, dan sebaliknya bila
mendapatkan kesuksesan dan nikmat tidak menjadi sombong dan membanggakan
diri. “Kami Jelaskan yang demikian itu
supaya kamu jangan beduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya
kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah
tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Al-Hadid:
22).
Secara
jelas, Allah memperingatkan bahwa dalam kehidupan kita tidak terlepas dari
takdirnya, Dari ayat di atas dapat dipahami bahwa seseorang yang benar dalam
memaknai takdir akan selamat keluh
kesah, duka cita dan putus asa, bahkan seandainya ia berhasil, tidak menjadikan
dirinya sosok yang sombong dan
membanggakan diri. Keterhindaran diri
dari sikap sombong dan bangga akan diri sendiri menyelamatkan dirinya dari kehilangan
keseimbangan hidup. Keseimbangan dimaksud adalah tidak berputus asa jika gagal
dan tidak lupa diri jika mendapatkan kesuksesan/ keberhasilan. Ia menjadi
pribadi yang tahu diri dan tidak gentar menghadapi kesulitan kehidupan di masa akan datang. Ketidakgentaran dalam
menghadapi masa depan dilatarbelakangi oleh sikapnya yang benar dalam memanai takdir Allah dalam
kehidupannya. Jadi percaya kepada takdir
yang benar pemaknaannya sesuai dengan
petunjuk Al-Quran akan mengantarkan seseorang
kesuksesan hidup, Nucholis Madjid mengatakan bahwa Jika seseorang
memaknai takdir sesuai dengan petunjuk Al-Quran
akan menjadi bekal dalam menuai
keberhasilan hidup. Allahu a’lam.

0 komentar: