Kurikulum Merdeka dan Pendidikan Islam


Kurikulum Merdeka merupakan inisiatif dalam sistem pendidikan Indonesia yang bertujuan untuk memberikan kebebasan kepada sekolah dan pendidik dalam menyusun dan melaksanakan pembelajaran. Inisiatif ini sejalan dengan upaya untuk menciptakan generasi yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga mampu beradaptasi dalam kehidupan yang dinamis. Dalam konteks nasional dan budaya yang beragam, penerapan Kurikulum Merdeka menjadi signifikan, terlebih ketika dikaitkan dengan pendidikan Islam yang memiliki nilai-nilai dan prinsip-prinsip tersendiri.


Pendidikan Islam, yang berakar pada ajaran Al-Qur'an dan Sunnah, menekankan pada pembentukan karakter dan akhlak mulia. Integrasi Kurikulum Merdeka dengan pendidikan Islam tidak hanya memungkinkan pembelajaran yang lebih fleksibel, tetapi juga mendorong upaya untuk mendekatkan siswa kepada nilai-nilai spiritual dan moral. Dengan memberikan ruang bagi kreativitas dan inovasi, Kurikulum Merdeka memungkinkan pendidik untuk menyusun materi yang relevan dengan konteks kehidupan nyata siswa, sekaligus menyisipkan nilai-nilai Islam yang dapat membentuk jati diri mereka.


Salah satu aspek penting dari Kurikulum Merdeka adalah penekanan pada pengembangan kompetensi dan karakter. Dalam pendidikan Islam, hal ini sejalan dengan prinsip tarbiyah, yaitu pendidikan yang mencakup aspek akhlak, intelektual, dan spiritual. Melalui pendekatan yang lebih holistik, kurikulum ini dapat digunakan untuk memperkuat iman dan taqwa siswa, mempersiapkan mereka tidak hanya untuk sukses di dunia, tetapi juga di akhirat. Pembelajaran berbasis proyek, misalnya, dapat mengajak siswa untuk mengeksplorasi tema-tema berkaitan dengan nilai-nilai Islam, seperti keadilan, keberagaman, dan kepedulian sosial.


Di sisi lain, implementasi Kurikulum Merdeka dalam konteks pendidikan Islam juga menghadapi tantangan. Beberapa di antaranya termasuk perbedaan interpretasi terhadap nilai-nilai Islam, kurangnya sumber daya pendukung, dan perlunya pelatihan bagi pendidik agar dapat menerapkan kurikulum ini dengan baik. Oleh karena itu, diperlukan kerjasama antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat untuk memastikan bahwa semua elemen dalam ekosistem pendidikan mampu beradaptasi dengan baik terhadap perubahan yang terjadi.


Dalam melihat kedepan, keberhasilan integrasi Kurikulum Merdeka dengan pendidikan Islam sangat bergantung pada komitmen semua pihak untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. Sekolah-sekolah perlu didorong untuk mengembangkan kurikulum yang berorientasi pada nilai-nilai Islam sekaligus responsif terhadap kebutuhan dan potensi siswa. Dengan demikian, generasi muda tidak hanya akan memiliki pengetahuan yang luas, tetapi juga karakter yang kuat dan mampu berkontribusi positif bagi masyarakat.


Secara keseluruhan, Kurikulum Merdeka dan pendidikan Islam memiliki potensi besar untuk saling memperkuat. Melalui pendekatan yang inklusif dan fleksibel, sistem pendidikan di Indonesia dapat mencetak individu-individu yang tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga memiliki integritas moral yang tinggi, sejalan dengan visi dan misi pendidikan nasional. Perpaduan ini diharapkan dapat membangun bangsa yang lebih baik dalam kerangka nilai-nilai yang membawa rahmat bagi semesta.


Kurikulum Merdeka dan Perkembangan Peserta Didik



Kurikulum Merdeka merupakan salah satu langkah penting dalam reformasi pendidikan di Indonesia, di mana tujuan utamanya adalah untuk menciptakan sistem pendidikan yang lebih fleksibel, adaptif, dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Kurikulum ini lahir dari pemikiran bahwa pendidikan harus mampu menjawab tantangan zaman, di mana perkembangan teknologi dan perubahan sosial berlangsung dengan sangat cepat. Dalam konteks ini, perkembangan peserta didik menjadi fokus utama, di mana diharapkan setiap individu dapat berkembang secara optimal sesuai dengan potensi dan minatnya.


Salah satu karakteristik utama dari Kurikulum Merdeka adalah penekanan pada pembelajaran yang berbasis proyek dan pengalaman. Hal ini mendorong peserta didik untuk aktif terlibat dalam proses pembelajaran, sehingga mereka tidak hanya sebagai penerima informasi, tetapi juga sebagai penggagas dan pelaksana dari pembelajaran itu sendiri. Dengan demikian, perkembangan keterampilan berpikir kritis dan kreatif menjadi salah satu tujuan penting yang ingin dicapai melalui kurikulum ini. Peserta didik didorong untuk berkolaborasi dalam kelompok, melakukan penelitian, dan menyelesaikan masalah nyata yang dihadapi di masyarakat.


Dalam implementasi Kurikulum Merdeka, diferensiasi pembelajaran menjadi prinsip yang diutamakan. Setiap peserta didik memiliki keunikan, baik dari segi minat, bakat, maupun gaya belajar. Oleh karena itu, kurikulum ini memberikan ruang bagi pendidik untuk menyesuaikan metode pengajaran dengan kebutuhan individu siswa. Dengan pendekatan ini, diharapkan perkembangan peserta didik tidak hanya terfokus pada pencapaian akademis, tetapi juga pada pengembangan karakter, sikap sosial, dan kompetensi lainnya yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. 


Namun, penerapan Kurikulum Merdeka juga menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya adalah kebutuhan akan pelatihan yang memadai bagi pendidik. Agar konsep kurikulum ini dapat diterapkan secara efektif, guru perlu memiliki keterampilan yang cukup untuk mengelola kelas dengan cara yang lebih interaktif dan inovatif. Oleh karena itu, investasi dalam pengembangan profesional bagi guru menjadi hal yang sangat penting. 


Selain itu, infrastruktur pendidikan dan sumber daya yang tersedia juga merupakan faktor penentu dalam keberhasilan kurikulum ini. Sekolah yang memiliki fasilitas yang memadai dan akses teknologi yang baik akan lebih mampu melaksanakan pembelajaran yang sesuai dengan prinsip-prinsip Kurikulum Merdeka. Oleh karena itu, perbaikan infrastruktur pendidikan perlu menjadi bagian integral dari implementasi kurikulum ini.


Secara keseluruhan, Kurikulum Merdeka menawarkan perspektif baru dalam pendidikan di Indonesia, di mana perkembangan peserta didik diletakkan pada posisi yang sentral. Dengan pendekatan yang lebih holistik, diharapkan siswa tidak hanya menjadi individu yang kompeten secara akademis, tetapi juga mampu berkontribusi positif dalam masyarakat. Dengan komitmen bersama dari berbagai pihak—pendidik, pemerintah, dan masyarakat—Kurikulum Merdeka memiliki potensi besar untuk mewujudkan generasi yang unggul, kreatif, dan berdaya saing di era global saat ini.


Mengkritisi Kebijakan Guru Penggerak di Indonesia



Kebijakan Guru Penggerak merupakan salah satu langkah strategis yang diambil oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Tanah Air. Dikenal sebagai program yang memberikan pelatihan dan pengembangan profesional bagi para guru, kebijakan ini mempunyai tujuan utama untuk menciptakan sumber daya manusia yang kreatif, kritis, dan memiliki karakter yang kuat. Meski demikian, terdapat beberapa aspek kritis yang perlu diperhatikan dalam implementasi kebijakan ini agar tujuan yang diharapkan dapat tercapai secara efektif.


Pertama-tama, perlu disoroti mengenai seleksi dan kriteria para guru yang terlibat dalam program Guru Penggerak. Proses seleksi yang kurang transparan dan objektif dapat menghasilkan ketidakmerataan dalam kualitas pengajaran. Salah satu tujuan utama dari program ini adalah untuk mencetak guru-guru inspiratif yang mampu mempengaruhi rekan-rekannya. Namun, apabila kriteria pemilihan tidak jelas, maka akan terjadi dampak negatif terhadap perkembangan pendidikan di daerah yang kurang terlayani. Keberagaman dalam pemilihan guru juga penting agar program ini dapat mencakup berbagai latar belakang dan tantangan yang dihadapi oleh sekolah di berbagai wilayah.


Selanjutnya, aspek pelatihan yang diberikan dalam program Guru Penggerak juga perlu diperhatikan. Meski program ini menawarkan berbagai modul pelatihan yang dirancang untuk meningkatkan kompetensi guru, banyak guru yang mengeluhkan bahwa materi yang disampaikan tidak selalu relevan dengan kondisi nyata di lapangan. Ada kalanya materi pelatihan lebih bersifat teoritis dan kurang memberikan solusi praktis yang dapat diterapkan sehari-hari. Oleh karena itu, penting agar kurikulum pelatihan terus menerus diperbaharui dan disesuaikan dengan kebutuhan terkini, termasuk masukan dari para guru yang telah mengikuti program tersebut.


Aspek lain yang perlu dikritisi adalah dukungan yang diberikan kepada para guru penggerak setelah mereka mengikuti pelatihan. Program ini seharusnya tidak berakhir setelah pelatihan dilakukan. Guru penggerak perlu mendapatkan dukungan berkelanjutan, baik dalam bentuk pendampingan maupun akses terhadap sumber daya yang memadai untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh. Tanpa adanya dukungan ini, tujuan untuk menciptakan dampak yang signifikan dalam pembelajaran akan sulit dicapai.


Akhirnya, evaluasi dan monitoring terhadap kebijakan Guru Penggerak juga merupakan elemen kunci yang perlu diperkuat. Tanpa sistem evaluasi yang jelas, sulit untuk mengukur efektivitas program serta dampaknya terhadap peningkatan kualitas pendidikan di berbagai tingkat sekolah. Oleh karena itu, perlu ada mekanisme evaluasi yang sistematis dan transparan untuk mengidentifikasi kelemahan dan kekuatan program secara berkala.


Secara keseluruhan, kebijakan Guru Penggerak adalah langkah positif dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Namun, untuk mewujudkan tujuan tersebut, perlu ada peninjauan ulang terhadap proses seleksi guru, relevansi materi pelatihan, dukungan pasca-pelatihan, serta sistem evaluasi yang handal. Dengan memperhatikan aspek-aspek tersebut, diharapkan program ini dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap pembangunan pendidikan Indonesia di masa depan.


Haruskah Meningkatkan Kualitas Pendidik dengan Cara Seleksi?

 

Pendidikan merupakan fondasi pembangunan suatu negara. Kualitas pendidik sangat menentukan keberhasilan proses belajar mengajar dan pada akhirnya, kualitas sumber daya manusia yang dihasilkan. Oleh karena itu, peningkatan kualitas pendidik menjadi isu yang krusial. Salah satu metode yang sering dibahas dalam konteks ini adalah melalui seleksi yang ketat.

 

Seleksi pendidik bertujuan untuk memastikan bahwa hanya individu yang memiliki kompetensi dan dedikasi yang tinggi yang dapat memasuki profesi ini. Dengan menerapkan sistem seleksi yang cermat, institusi pendidikan dapat meminimalkan kemungkinan adanya pendidik yang kurang berkualitas atau tidak sesuai dengan tuntutan pendidikan modern. Proses seleksi yang baik mencakup evaluasi terhadap kemampuan akademik, keterampilan pedagogis, serta karakter dan etika calon pendidik.

 

Namun, seleksi semata tidak cukup. Peningkatan kualitas pendidikan juga memerlukan program pelatihan berkelanjutan dan pengembangan profesional bagi pendidik yang telah bertugas. Seleksi yang ketat harus diimbangi dengan dukungan yang memadai agar pendidik dapat terus berkembang sesuai dengan dinamika dan tuntutan pendidikan yang selalu berubah.

 

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa meningkatkan kualitas pendidik melalui seleksi adalah langkah yang tepat dan perlu. Namun, hal ini harus dilakukan secara holistik, dengan mengintegrasikan proses seleksi yang baik dengan program pengembangan profesional berkelanjutan. Hanya dengan cara ini, kita dapat memastikan bahwa pendidik yang berkualitas dapat melahirkan generasi masa depan yang unggul.

 

 


Malu dalam Menuntut Ilmu

 Mujahid berkata, "Pemalu dan orang sombong tidak akan dapat mempelajari pengetahuan agama."

Aisyah berkata, "Sebaik-baik kaum wanita adalah kaum wanita sahabat Anshar. Mereka tidak dihalang-halangi rasa malu untuk mempelajari pengetahuan yang mendalam tentang agama."
 

86. Ummu Salamah r.a. berkata, "Ummu Sulaim [istri Abu Thalhah 1/74] datang kepada Nabi saw lalu ia berkata, 'Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu terhadap kebenaran. Apakah wanita wajib mandi apabila mimpi (bersetubuh)?' Nabi saw. bersabda, 'Ya, apabila wanita itu melihat air (mani).' Lalu Ummu Sulaim menutup wajahnya (dan dalam satu riwayat: Maka Ummu Salamah tertawa 4/102) dan berkata, 'Wahai Rasulullah, apakah wanita itu mimpi (bersetubuh)?' Beliau bersabda, 'Ya, berdebulah tanganmu (sial nian kamu), dengan apakah anaknya dapat menyerupainya?")


Keutamaan Haji mabrur

 754. Abu Hurairah r.a. berkata, "Nabi ditanya, 'Amal apakah yang lebih utama?' Beliau bersabda, 'Iman kepada Allah dan Rasul-Nya.' Ditanyakan, 'Kemudian apa?' Beliau bersabda, 'Berjuang di jalan Allah.' Ditanyakan, 'Kemudian apa?' Beliau bersabda, 'Haji yang mabrur.'"


755. Aisyah Ummul Mukminin r.a. berkata, "Wahai Rasulullah, kami melihat bahwa jihad (berperang) itu seutama-utama amal, apakah kami tidak perlu berjihad?" Nabi saw. bersabda, 'Tidak, bagi kalian jihad yang paling utama adalah haji mabrur." (Dalam satu riwayat: Rasulullah ditanya oleh istri-istri beliau tentang haji, lalu beliau bersabda, "Sebaik-baik jihad adalah haji." 3/221)


756. Abu Hurairah r.a. berkata, "Saya mendengar Nabi bersabda, 'Barangsiapa yang haji (ke Baitullah 2/209) karena Allah, ia tidak berkata porno dan tidak fasik (melanggar batas-batas syara'), maka ia pulang seperti hari ketika dilahirkan oleh ibunya.'"


Ada tiga orang Bani Israel

 

  • Bahwa ia mendengar Nabi bersabda: Sungguhnya ada tiga orang Bani Israel, seorang berkulit belang, seorang berkepala botak dan yang lain matanya buta. Allah ingin menguji mereka, maka Dia mengirim malaikat. Malaikat ini mendatangi orang yang berkulit belang dan bertanya: Apa yang paling kamu sukai? Orang itu menjawab: Warna (kulit) yang bagus, kulit yang indah dan sembuhnya penyakit yang membuat orang jijik kepadaku. Malaikat tersebut mengusap tubuhnya, maka penyakitnya sembuh dan ia diberi warna yang bagus dan kulit yang indah. Malaikat bertanya lagi: Harta apa yang paling kamu senangi? Orang itu menjawab: Unta. Atau: Ia menjawab: Sapi. (Ishak ragu-ragu tentang itu). Lalu ia diberi unta yang hampir melahirkan lalu malaikat berkata: Semoga Allah memberkahinya untukmu. Kemudian ia mendatangi orang yang botak lalu bertanya: Apa yang paling kamu sukai? Orang itu berkata: Rambut yang indah dan sembuhnya penyakit yang membuat orang jijik kepadaku. Malaikat mengusapnya, maka penyakitnya sembuh dan ia diberi rambut yang indah. Malaikat bertanya lagi: Harta apa yang paling kamu senangi? ia menjawab: Sapi. Maka ia diberi sapi bunting lalu malaikat berkata: Semoga Allah memberkahinya untukmu. Kemudian malaikat mendatangi yang buta, lalu bertanya: Apa yang paling kamu sukai? Ia menjawab: Allah mengembalikan penglihatanku, sehingga aku dapat melihat manusia. Maka Malaikat mengusapnya, sehingga penglihatannya kembali normal. Malaikat itu bertanya lagi: Harta apa yang paling kamu sukai? Ia menjawab: Kambing. Maka ia diberi kambing yang beranak. Selanjutnya semua binatang yang diberikan itu beranak-pinak sehingga orang yang berpenyakit belang dapat mempunyai unta satu lembah, yang botak mempunyai sapi satu lembah dan yang asalnya buta memiliki kambing satu lembah. Pada suatu ketika malaikat kembali mendatangi orang yang berpenyakit belang dalam bentuk dan cara seperti ia dahulu lalu berkata: Aku orang miskin yang telah terputus seluruh sumber rezeki dalam perjalananku, maka pada hari ini tidak ada lagi pengharapan, kecuali kepada Allah dan kamu. Demi Tuhan yang telah menganugerahimu warna yang bagus, kulit yang indah serta harta benda, aku minta seekor unta untuk membantuku dalam perjalanan. Orang itu berkata: Masih banyak sekali hak-hak yang harus kupenuhi. Maka malaikat itu berkata kepadanya: Aku seperti mengenal kamu, bukankah kamu yang dahulu berpenyakit kulit belang yang manusia jijik kepadamu, serta yang dahulu fakir lalu diberi harta oleh Allah? Orang itu berkata: Aku mewarisi harta ini secara turun-temurun. Malaikat berkata: Kalau kamu berdusta, semoga Allah menjadikan kamu seperti dahulu lagi. Setelah itu malaikat tadi mendatangi orang yang dahulu botak dalam bentuknya seperti dahulu lalu berkata kepadanya seperti apa yang dikatakannya kepada orang yang berkulit belang, dan orang itu menjawabnya seperti jawaban orang yang belang tadi. Maka malaikat berkata: Jika kamu berdusta, semoga Allah menjadikan kamu seperti dahulu lagi. Kemudian sesudah itu malaikat mendatangi orang yang dahulu buta dalam bentuk dan cara seperti dahulu lalu berkata: Aku orang miskin yang mengembara dan telah terputus seluruh sumber rezeki dalam perjalananku, maka pada hari ini tidak ada lagi pengharapan, kecuali kepada Allah dan kamu. Demi Tuhan yang telah memulihkan penglihatanmu, aku minta seekot kambing untuk membantuku dalam perjalanan. Orang itu berkata: Dahulu aku buta, lalu Allah memulihkan penglihatanku, maka ambillah apa yang kamu inginkan dan tinggalkanlah apa yang tidak kamu inginkan. Demi Allah aku tidak akan membebani kamu untuk mengembalikan sesuatu yang telah kamu ambil untuk Allah. Maka malaikat berkata: Peganglah hartamu itu semua, karena kamu sekalian hanya sekedar diuji, kamu telah diridai Tuhan, sedangkan kedua sahabatmu telah dimurkai Allah. (Shahih Muslim No.5265)


Mendidik Anak Menurut Al-Quran

 

Dan (Ingatlah) ketika Luqman Berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar (QS. Lukman: 13). Dari ayat tersebut dapat kita ambil pokok pikiran sebagai berikut, pertama orang tua wajib memberi pendidikan kepada anak-anaknya. Kedua dalam mendidik  prioritas pertama adalah penanaman akidah, pendidikan akidah diutamakan agar menjadi kerangka dasar dan landasan dalam membentuk pribadi anak yang soleh.

Dalam mendidik hendaknya menggunakan pendekatan yang bersifat kasih sayang, hal ini dapat kita cermati dari seruan  Lukman kepada anak-anaknya, yaitu “Yaa Bunayyaa” (Wahai anak-anakku), seruan tersebut menyiratkan sebuah ungkapan yang penuh muatan kasih sayang, sentuhan kelembutan dalam mendidik anak-anaknya. Indah dan menyejukkan. Kata Bunayya, mengandung rasa manja, kelembutan dan kemesraan, tetapi tetap dalam koridor ketegasan dan kedisplinan, dan bukan berarti mendidik  dengan keras.

Mendidik anak dengan keras hanya akan menyisakan dan membentuk anak berjiwa keras, kejam dan kasar, kekerasan hanya meninggalkan bekas yang mengores tajam kelembutan anak, kelembutan dalam diri anak akan hilang tergerus oleh pendidikan yang keras dan brutal. Kepribadian anak menjadi kental dengan kekerasan, hati, pikiran, gerak dan perkataannya jauh dari kebenaran dan kesejukan.

            Kelembutan, kemesraan dalam mendidik anak merupakan konsep Al-Quran, apapun pendidikan diberikan kepada anak hendaknya dengan kelembutan dan kasih sayang. Begitu  juga dalam prioritas mendidik diutamakan mendidik akidahnya terlebih dahulu, dengan penyampaian lembut dan penuh kasih sayang. Mudah-mudahan anak akan tersentuh dan merasa aman di dekat orang tuanya, kenapa dalam mendidik perlu diutamakan akidah terlebih dahulu? Kenapa tidak yang lain? Jawabnya adalah karena akidah merupakan pondasi dasar bagi manusia untuk mengarungi kehidupan ini. Akidah yang kuat akan membentengi anak dari pengaruh negatif kehidupan dunia. Sebaliknya kalau akidah lemah maka tidak ada lagi yang membentengi anak dari pengaruh negatif, apakah pengaruh dari dalam diri, keluarga, maupun masyarakat di sekitarnya.

            Kenapa  harus akidah? Karena  dengan akidah anak selamat dunia dan akherat, akidah adalah modal dasar bagi anak menapaki kehidupan, dapat dibayangkan apa yang terjadi jika seorang anak tidak mempunyai akidah yang kuat, pasti anak-anak itu akan mudah terserang berbagai virus-virus kekejian, kemungkaran, kemunafikan, dan kemaksiatan kepada Allah, imunitas keimanan anak akan lemah, dan pada akhirnya anak terjebak dalam kelamnya dunia ini. Terbawa arus deras gelapnya kehidupan, tenggelam dalam kubangan kemaksiatan, kegersangan hidup dan kesengsaraan batin.

Akidah adalah asas untuk membangun Islam. kalau asasnya sudah bagus maka Islam akan tegak dalam diri anak, kenapa dewasa ini banyak anak-anak yang tidak tegak agamanya, tidak kuat akidahnya sehingga banyak terjadi penyelewengan, semua itu terjadi akibat pemahaman akidah yang dangkal, sehingga mudah goyah pendiriannya dan akhirnya roboh. Memang kalau kita perhatikan orang tua jaman sekarang tidak banyak yang menekankan pendidikan akidah  kepada anak-anaknya. Orang tua tidak merasa sedih dan takut kalau anaknya terjebak kepada keimanan yang rapuh, orang tua tidak pernah mengeluh kalau anaknya tidak membaca Al-Quran, menghafal Al-Quran, tetapi orang tua akan marah kalau anaknya tidak pergi les matematika, les fisika, les komputer, orang tua tidak merasa takut kalau anaknya tidak pergi mengaji, bayaran iuran mengaji terlambat, orang tua khawatir kalau anaknya belum bayar iuran bulanan les matematika, fisika dan lain sebagainya. Kenyataan tersebut menunjukkan bahwa sikap orang tua terhadap pendidikan masih tebang pilih, kurang adil dalam mendidik anak-anaknya, para orang tua terkesan berat sebelah, padahal pendidikan seharusnya diterima anak secara utuh, baik pendidikan yang berupa keduniaan dan keakheratan, di antaranya adalah pendidikan akidah.

            Untuk itu, langkah awal dalam mendidik anak adalah penanaman akidah, tidak yang lain. Kalau akidah anak sudah kuat maka apa saja bangunan keahlian yang akan di dirikan dalam diri anak akan kokoh, apakah menjadi tentara, polisi, dosen, pengusaha, ilmuwan dan lain sebagainya. Kalau akidah sudah kuat, kalaupun menjadi polisi ia akan menjadi polisi yang beriman, tentara beriman, hakim beriman, ilmuwan beriman, presiden yang beriman, yang pasti pondasi keimanan akan bersemayam dalam dirinya.

 Dalam ayat di atas, juga tergambar bahwa mendidik anak bukan hanya tanggung jawab ibu tetapi juga menjadi tanggung jawab bapak. Selama ini kebiasaan dalam masyarakat kita dalam mendidik anak lebih berat kepada kaum ibu, dengan alasan ibulah yang sering bertemu dan bercengkerama dengan anak, sedangkan bapak lebih diidentikkan dan diposisikan sebagai kepala rumah tangga, lebih khusus  diletakkan pada tanggung jawab dalam aspek ekonomi dan finansial sedangkan aspek edukasi terabaikan. Sehingga yang terjadi adalah  peran bapak dalam mendidik anak terabaikan, akibat lebih jauh adalah anak menjadi kurang interaksinya dengan bapaknya, anak akan mendekat dan bertemu wajah dan berbicara dengan bapaknya kalau ada perlu, ketika akan meminta uang jajan. Padahal, dalam konsep Al-Quran peran bapak dalam mendidik anak sangat besar, hal ini dapat kita cermati dari peran Lukman dalam mendidik anak-anaknya. Peran Yaqub dan Ibrahim dalam mendidik anak-anaknya. Untuk  itu sudah saatnya orang tua mulai berbagi dan berkerjasama dalam mendidik anak, perlu duduk bersama membicarakan langkah dan metode yang tepat untuk anak-anaknya.

            Setelah akidah anak kuat, orang tua perlu menekankan pendidikan pada aspek ibadah seperti salat, berdakwah dengan memberi contoh terlebih dahulu, seperti mencegah diri dari yang mungkar dan selalu melakukan kebaikan. Setelah itu memberi nasehat kepada orang lain untuk meninggalkan kemungkaran dan mengerjakan kebaikan. Dan yang tidak kalah penting adalah sabar dalam menghadapi cobaan hidup. Sebab hidup itu ibarat di lautan, kadang-kadang ombak besar dan menggila dan menghempaskan kapal kita, lain waktu lautan menjadi sangat bersahabat sehingga kapal kita dapat berlayar dengan tenang tanpa gangguan. Demikian juga hidup, tidak selamanya bahagia, tidak selamanya sedih, kadang dalam kemiskinan, terkadang dalam keadaan kaya. Untuk itu sebagai orang tua yang bijak perlu mendidik anak-anaknya untuk bersabar menghadapi berbagai cobaan hidup. Allah berfirman,”Hai anakku, Dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan Bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).”(QS. Lukman: 17)

            Ayat di atas, memberi pengajaran kepada para orang tua untuk selalu memantau salat anak, apakah salatnya sudah dilaksanakan dengan baik, lengkap syarat, rukunya, apakah salatnya sudah dilaksanakan liam kali seharisemalam, atau masih ada yang tinggal? Orang tua di tuntut untuk peduli terhadap ibadah salat anaknya. Sebab salat adalah tiang agama, kalau anak-anaknya telah mendirikan salat dengan baik dan benar rukun syaratnya, berarti anak-anak kita telah menegakkan agama, sebaliknya kalau anak-anak kita masih banyak meninggalkan salat, salatnya masih asal-asalan, maka anak-anak kita telah mulai meruntuhkan agama. Akibat dari tidak terkontrolnya salat anak oleh orang tua akan berujung kepada lahirnya sikap acuh terhadap kebaikan dan mendekat dan tertariknya untuk melakukan kemungkaran. Karena  pada dasarnya mendirikan salat mencegah seseorang dari perbuatan keji dan mungkar.”Bacalah apa yang Telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan Dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”(QS. Al-Ankabut:45).

            Orang  tua yang berperan mendidik dan mengontrol salat anak-anaknya, penekanan dalam mendidik anak setelah akidah adalah mendirikan salat, setelah salat didirikan, maka dilanjutkan dengan mengarahkan pada pendidikan dakwah, penyampaian kebenaran dan pencegahan kemungkaran. Menyebarkan  kebaikan, dan memberantas kemungakaran, baik dengan cara memberi contoh, dengan lisan, maupun perbuatan. Menanamkan  dalam diri anak untuk selalu sabar menghadapi berbagai cobaan kehidupan dengan sabar semua akan menjadi baik, dengan sabar pikiran menjadi cemerlang, dengan sabar akan banyak jalan penyelesaian, sebab hanya dengan sabar orang akan terselamatkan, dengan sabar manusia menjadi dekat dengan Tuhan, karena kesabaranlah Allah menjadi cinta.

            Dan tidak kalah pentingnya adalah mendidik akhlak anak. Orang tua yang sadarkan pentingnya kepribadian anak-anaknya akan berusaha menjadi teladan yang terbaik bagi anak-anaknya. Baik dalam perkataan maupun perbuatan, dalam taraf perkembangan jiwa dan kepribadiannya, anak meniru apa yang dilihatdan dengar. Kalau orang tua kurang hati-hati dalam bertindak dan bertutur kata, hingga anak-anaknya mengetahui dan mendengar, maka anak secara reflek akan meniru apa yang dilakukan oleh orang tuanya. Maka  benar kata Rasulullah Saw bahwa anak terlahir dalam keadaan fitrah orang tuanya yang akan membentuk  anak-anaknya, apakah menjadi Nasrani, Yahudi maupun Majusi, menjadikan anak yang soleh, berakhlak mulia atau berakhlak buruk. Peran  orang tua sangat besar terhadap pembentukan karakter kepribadian anak-anaknya. Di sisi lain, masyarakat sekitar dan pendidikan juga memberi andil yang besar dalam membentuk karakter dan akhlak anak, untuk itu para orang tua hendaknya lebih-hati-hati dan selektif dalam mencarikan lingkungan bermain dan pendidikan untuk buah hatinya.

Paparan di atas, dapat dipahami beberapa hal penting, pertama, mendidik menjadi tanggung jawab kedua orang tua. Kedua, pendidikan pertama yang harus diberikan kepada anak adalah penanaman akidah yang benar. Ketiga,  setelah pendidikan akidah, langkah pendidikan berikutnya adalah mendidik anak agar mencintai dan mendirikan salat lima waktu dengan sadar tanpa ada paksaan. Keempat, mendidik anak untuk berjiwa pendakwah, yaitu suka memberi contoh dalam berbuat baik dan meninggalkan kemungakaran. Kelima, menekankan pendidikan kepada aspek akhlak yang mulia, seperti, sabar, qanaah, tawadhu, dermawan dan akhlak mahmudah lainnya. Allahu A’lam.

 

 

 


MEMAKNAI TAKDIR DALAM KEHIDUPAN

 Tidaklah terjadi  suatu peristiwa di muka bumi ini dan pada diri kamu sekalian, melainkan sudah ada dalam catatan sebelum Kami membeberkannya. Sesungguhnya hal itu bagi Tuhan perkara mudah (QS. Al-Hadid:22). Sungguh Tuhan tidak mengubah nasib suatu kaum sampai kaum itu sanggup mengubah apa yang ada pada dirinya.(QS. Al-Ra’du: 11). Secara sekilas kedua kutipan firman Allah di atas, menunjukkan pertentangan satu sama lain, ayat 22 surat Al-Hadid dengan jelas menginformasikan bahwa takdir adalah suatu kepastian, dalam arti  nasib manusia sudah ditentukan oleh Allah sejak azali.

Sebagai orang muslim  yang taat  pasti percaya akan adanya takdir Allah, kepercayaan kepada takdir merupakan rukun iman yang keenam, hal ini berdasarkan paham ahli sunnah wal jamaah, yang meyakini bahwa percaya kepada takdir termasuk rukun iman, perlu juga diketahui bahwa ada juga kelompok Islam yang lain (Mu’tazilah), kelompok Mu’tazilah berpendapat jika Tuhan telah menentukan perbuatan manusia sejak azali, maka Tuhan tidak adil, sebab orang yang ditakdirkan berbuat jahat masuk neraka, sedangkan yang ditakdirkan berbuat baik masuk surga, kalau hal ini  terjadi maka Tuhan tidak adil, maka menurut menurutnya yang adil adalah manusia dihukum atau diberi ganjaran sesuai dengan pilihanya apakah akan berbuat baik atau buruk.

Semua muslim sudah kenal apa itu takdir, yang jelas takdir sangat erat kaitannya dengan ketentuan Allah yang dirahasiakan dan tidak dapat ditolak oleh manusia. Semua manusia dikuasai oleh takdirnya, maka tidak ada seorangpun yang dapat lari dari takdir, untuk itu jalan terbaik dan paling selamat adalah menerima takdir tersebut dengan lapang hati dan penuh kerelaan, karena sebaik-baik manusia dalam menerima takdir adalah menerima dengan penuh keridaan/ kerelaan dan kesabaran. Akan tetapi pemaknaan takdir yang salah akan mengantarkan seseorang pada sikap menyerah atau fatalisme, maksudya adalah sikap jiwa yang menyerah pada keadaan tanpa ada usaha, menyerah kalah sebelum berperang.

Takdir adalah suatu kepastian dan ketetapan Allah, takdir adalah hokum alam yang pasti terjadi, ada kepastian tersebut  membuat  manusia harus tunduk pada takdir hokum alam/ketetapan Allah. Ketundukan kepasrahan (islam) merupakan  bagian integral  dari keimanan seseorang. Keimanan tersebut menuntut seseorang untuk beramal dan bertindak secara teratur sesuai hokum Allah, 

sebab hokum-hukum Allah/takdir Allah membutuhkan usaha, kerja dan ikhtiar. Dan hokum-hukum itu menjadi  bermacam-macam pilihan, alternatif-alternatif  bagi manusia, dari berbagai alternatif tersebut, tentu ada yang terbaik, maka untuk memilih hal tersebut manusia diberi kebebasan untuk berikhtiar. Disinilah manusia diberi peluang untuk mengubah nasibnya. Al-Quran menginformasikan  pada ayat 11  surat Al-Ra’du, dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa nasib seseorang tidak akan berubah sebelum kaum itu merubah dirinya (nasibnya). ayat 11 Al-Ra’du merupakan konsekuensi logisnya  dari surat Al-Hadid ayat 22, meskipun nasib seseorang telah  ditetapkan oleh Allah, tetapi  manusia/seseorang diberi kebebasan, peluang dan pilihan untuk mengubah nasibnya yang telah ditentukan oleh Allah.

Proses mengubah nasib atau takdir bukan suatu usaha yang mudah , tetapi perlu mujahadah yang sungguh-sungguh, mujahadah  tersebut diwujudkan dengan berusaha dan berikhtiar. Usaha dan ikhtiar tersebut hendaknya dilakukan dengan semaksimal mungkin, sebab usaha /kerja yang baik akan menjadi doa yang tulus, sedangkan doa yang tulus akan menjadi sebuah kerja yang bernilai  baik bagi manusia di hadapan Allah. Hal ter sebut menunjukkan bahwa antara usaha dan doa merupakan dua hal yang bertautan dan menjadi sebuah kesatuan yang utuh, adanya usaha yang disertai dengan doa merupakan gabungan kekuatan dahsyat, kekuatan energi yang dimaksud adalah ikhtiar dan tawakkal, M. Amin Akkas mengatakan bahwa doa bukan sekedar  olah batin, tetapi juga olah otot dan olah nalar, doa adalah gabungan antara ikhtiar dan tawakkal. Seorang manusia dalam rangka mengubah nasibnya/takdirnya.

Kesempatan mengubah nasib merupakan sikap merdeka yang di berikan Allah kepada manusia, meskipun Allah telah menetapkan nasibnya, namun Allah juga masih memberi celah dan kesempatan kepada manusia untuk menentukan nasibnya, hal ini dapat  kita pahami dari ayat 11 Al-Ra;du tersebut. Kesempatan mengubah nasi ini tentu memerlukan energi dan upaya yang serius, sebab tanpa ada upaya yang serius dan sungguh-sungguh tentu apa yang diinginan  dan diupayakan akan tidak maksimal, padahal Allah  menurunkan pertolongannya hanya kepada orang yang berpayah-payah dalam bermujahadah. Imam Ali bin abi thalib pernah menegaskan bahwa Tuhan tidak akan pernah menurunkan Tangan bantuan-Nya kepada kami, sebelum  Dia melihat kami bepayah-payah dalam berjuang. Perkataan Iman Ali ini  dalam realitas kehidupan banyak kita temui, bahwa seseorang yang sukses dalam hal apapun selalu dilalui dengan perjuangan yang sungguh-sungguh dan bersusah payah, fakta sejarah dalam kehidupan ini memunculkan kata-kata bijak yang mengatakan berakit-rakit  ke hulu berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian, kata bijak ini makin membuktikan dan menguatkan tesis di atas bahwa usaha yang sungguh-sungguh biasanya akan mendapatkan hasil yang tidak mengecewakan, dan Allah-pun tidak akan menyia-yiakan jerih payah hambanya yang berusaha mengubah takdirnya, kalaupun gagal dalam proses mengubah takdir ia tidak putus asa, dan di sinilah letak keimanan seseorang terhadap takdir Allah tersebut. Ketika seseorang telah berusaha dengan maksimal disertai ikhtiar, doa dan tawakkal, namun hasilnya tidak sesuai dengan harapan, maka disitulah takdir Allah telah berlaku, disitulah kadar keimanannya sedang diuji.

Meskipun demikian, kita tidak boleh hanya pasrah begitu saja dalam hidup ini, karena merasa tidak ada gunanya berusaha, sebab semua sudah ditentukan oleh Allah, semuanya sudah menjadi takdir, sikap dan pemahaman seperti ini akhirnya membawa kita terjebak pada paham yang hanya nerimo(menerima/fatalisme) tanpa ada usaha.  Sebagai seorang beriman  hendaknya tidak berpaham seperti  itu, dengan hanya menerima tanpa ada usaha. Kita dapat mengatakan bahwa segala sesuatu  telah menjadi takdir atau nasib bila peristiwa atau kejadian tersebut telah terjadi, tetapi jika belum terjadi, maka kejadian yang menimpa  belum dapat dikatakan sebagai takdir, sebab  dalam hal ini masih ada kesempatan dan celah bagi manusia untuk mengubah nasib/takdirnya,  celah dan kesempatan untuk mengubah nasib tersebut adalah ikhtiar, usaha, doa dan tawakkal.

Memaknai takdir bukan sekedar mengimani bahwa semua yang telah terjadi merupakan kehendak dan dari Allah, namun lebih dari itu takdir dapat dimaknai sebagai suatu ajaran yang mengembalikan segala sesuatu kepada Allah, dengan mengembalikan segala sesuatu kepada Allah akan membentuk hati kita makin tenang, menjadikan diri kita menjadi pribadi yang utuh. Keutuhan dan ketenangan batin kita terjadi akibat efek spiritual yang spontan  dari hati yang pasrah dan yakin kepada takdir Allah, sebab segala segala sesuatu telah tertulis di dalam kitab( Lauh Mahfuzh). Tiada suatu bencana yang menimpa di Bumi dan tidak pula pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab(Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah. (QS. Al-Hadid:22).

Memaknai takdir  bukan untuk hal yang belum terjadi, akan tetapi untuk hal yang telah terjadi, apabila segala sesuatu telah terjadi maka kita hendaknya mengimani dan memaknai peristiwa tersebut sebagai takdir. Dengan pemahaman demikian diharapkan kita tidak putus asa  dalam menerima kegagalan dan tidak  sombong ketika mendapatkan kesuksesan, terkadang kita dengan sombongnya membanggakan diri bahwa semua yang kita peroleh, kesuksesan yang kita dapatkan adalah usaha kita, kemampuan  kita,  kepandaian kita,  sering peran Allah seolah hilang dalam tataran keseharian kita, secara tidak sadar  kita mengklaim diri kitalah yang menjadikan kita sukses. Kalau hal ini terjadi pada diri kita, maka telah terjadi pengingkaran kepada takdir.

Memaknai takdir yang salah pasang akan menjerumuskan seseorang pada menuhankan diri sendiri, semua karena dirinya sendiri sehingga Allah sebagai penguasa takdir manusia dilupakan. Keadaan ini menjadikan hati kita jauh dari rasa tawadhu, rasa kehambaan hilang dari diri kita, yang ada dalam diri  kita adalah rasa kesombongan bila mendapatkan kesuksesan, dan keputusasaan bila mendapat kegagalan, hal ini terjadi karena Tuhan telah hilang dari  diri kita. Tuhan yang telah menentukan takdir  telah kita campakkan dalam lorong gelap kehidupan jiwa keangkuhan kita, nilai-nilai spiritual dalam hati kita timbuni dengan kecintaan dunia yang fana ini, semua hanya kita yang berperan Tuhan telah kita singkirkan dalam penentuan takdir. Kita terlalu percaya bahwa  kitalah yang menentukan diri kita tidak ada peran tuhan dalam hidup kita.

Padahal, kalau  kita mau mengkaji lebih jauh tentang takdir Allah, maka akan terlihat bahwa Allah membocorkan  informasi  mengenai takdir adalah agar manusia menyadari bahwa semua peristiwa  dan kejadian adalah dari Allah, dan akan kembali lagi kepada Allah, sehingga bila terjadi sesuatu yang menyedihkan  atau sesuatu kegagalan kita tidak keluhkesah, tidak berduka cita, dan sebaliknya bila  mendapatkan kesuksesan dan nikmat tidak menjadi sombong dan membanggakan diri. “Kami Jelaskan  yang demikian itu supaya kamu jangan beduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Al-Hadid: 22).

Secara jelas, Allah memperingatkan bahwa dalam kehidupan kita tidak terlepas dari takdirnya, Dari ayat di atas dapat dipahami bahwa seseorang yang benar dalam memaknai takdir akan selamat  keluh kesah, duka cita dan putus asa, bahkan seandainya ia berhasil, tidak menjadikan dirinya sosok yang sombong  dan membanggakan diri.  Keterhindaran diri dari sikap sombong dan bangga akan diri sendiri menyelamatkan dirinya dari kehilangan keseimbangan hidup. Keseimbangan dimaksud adalah tidak berputus asa jika gagal dan tidak lupa diri jika mendapatkan kesuksesan/ keberhasilan. Ia menjadi pribadi yang tahu diri dan tidak gentar menghadapi kesulitan kehidupan  di masa akan datang. Ketidakgentaran dalam menghadapi masa depan dilatarbelakangi oleh sikapnya yang benar  dalam memanai takdir Allah dalam kehidupannya.  Jadi percaya kepada takdir yang benar pemaknaannya  sesuai dengan petunjuk Al-Quran akan mengantarkan seseorang  kesuksesan hidup, Nucholis Madjid mengatakan bahwa Jika seseorang memaknai takdir sesuai dengan petunjuk Al-Quran  akan menjadi bekal  dalam menuai keberhasilan hidup. Allahu a’lam.

           

 

 


KONSEP ADIL DALAM AL-QURAN

 

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil,”(QS. Al-Mumtahanah: 8). Berbuat adil adalah sifat mulia yang disukai oleh Allah, Secara konsep keadilah adalah memberikan hak kepada pemiliknya tanpa memihak, tanpa diskriminasi, kemudian meletakkan sesuatu sesuai porsinya. Secara konsep definisi keadilan begitu enak dibaca dan didengar, pertanyaannya adalah apakah keadilan sudah terwujud dalam kehidupan kita? Banyak orang secara konsep mengetahui dan menguasai, bahkan semua yang berhubungan dengan keadilah ia tahu, tetapi dalam tataran  kehidupan ia belum mampu mengejawantahkannya. Yang mengatahui konsep keadilan belum mampu menjalankan, apalagi yang buta masalah hokum tentu akan makin jauh dari sikap adil?

Memang, permasalahan muncul bukan pada tataran pemahaman adil secara konsep, melainkan merujuk kepada aspek aplikasi, terkadang seseorang secara konsep paham dan hafal apa itu keadilan, tetapi perbuatannya jauh dari sikap adil itu sendiri. Kenapa hal ini terjadi? kemungkinan kesengajaan, merasa berat untuk berbuat adil.

Atau,  tidak berlaku adil karena terpaksa, atau terpaksa berpura-pura masa bodoh terhadap tegaknya suatu keadilan? Terkadang, demi keuntungan pribadi, kelompok, kita rela mengadaikan keadilan, kita rela menzalimi orang lain, bahkan dengan bengis dan tanpa perasaan kita korbankan nyawa orang lain untuk menyembunyikan kebusukan kita, orang yang berusaha berjuang demi keadilan kita bungkam dan kita kebiri.

 Tidak itu saja, karena kedengkian dan kebencian kepada suatu kaum atau golongan tertentu membuat seseorang tidak berlaku adil. Ironinya kita sendiri sebagai aparat penegak keadilan, penegak hokum, kita bukan menjadi panutan dalam menegakkan hokum, contoh dalam memancangkan keadilan di bumi ini, malah sebaliknya kita sendiri yang menghianati dan memberangus keadilan di tengah masyarakat, padahal kita di perintahkan oleh Allah untuk berlaku adil dan menjadi saksi yang adil.

Meskipun  demikian, kebencian di hati hendaknya tidak membuat kita tidak berlaku adil, di sisi lain, kita tidak dibenarkan menghianati keadilan, bila kita mampu menegakkan keadilan, mampu menjadi saksi yang adil, maka menegakkan keadilan adalah suatu pilihan meskipun pahit,”Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan,” (QS. Al-Maidah: 8).

Terkadang, kita sedih melihat aparat penegak hokum kita, hanya demi keuntungan sedikit, mereka rela menjual hokum, menjual keadilah, membenamkan keadilan dan mengorbankan orang lain demi keuntungan pribadi. Seperti saling suap dan menyuap agar terbebas dari jeratan hokum, padahal penyuap dan penerima suap sama-sama masuk neraka,”orang yang menyuap dan menerima suap sama-sama masuk neraka,”(HR. Bukhari). Dalam hadis yang lain, Nabi Saw. mengatakan bahwa Allah melaknat orang yang menyuap dan meneriam suap,”laknat Allah itu atas orang yang menyuap dan yang menerima suap,”(HR. Al-Khamsah).

Konsep keadilan dalam Al-Quran dan hadis memp[osisikan diri secara jelas tanpa kompromi dan diskriminasi, kita diperintahkan semaksimal mungkin untuk selalu obyektif terhadap keputusan yang akan diambil. Menghindari sikap sentimen  kesukuan, kebencian dalam memutuskan suatu perkara sehingga dapat bersikap adil, apabila seseorang berlaku adil maka ia akan lebih dekat kepada kebajikan yang sempurna, sebaliknya jika tidak berlaku adil maka kebajikan akan makin jauh dari kehidupan kita.

Namun, banyak orang merasa tidak mendapatkan keadilah hokum dinegeri ini, walaupun banyak pengadilan, tetapi keadilan masih langka, keadilan masih seperti barang langka yang susah untuk dicari, ada juga yang mengatakan hokum dapat dibeli, siapa yang banyak memberi ujang dialah yang akan mendapat keadilan menurut keinginannya sendiri, sesuai versinya sendiri, keadilan hanya menjadi komodititas bisnis dan mesin penghasil uang.

Adil adalah perintah Allah Swt. “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan,” (QS. An-Nahl: 90). Meskipun berbuat adil bagian dari perintah Allah, tetapi banyak di antara manusia yang mengabaikan berbuat adil, mereka berkecenderungan berbuat kecurangan, kezaliman, kelaliman  demi keuntungan pribadi, kelompok, dan golongan tertentu, bahkan demi  etnis tertentu. Padahal Allah mengancam bagi para pembelot dari kebenaran dan keadilan dengan  ancaman neraka,”Adapun orang-orang yang menyimpang dari kebenran maka mereka menjadi kayu api bagi neraka jahanam,”(QS. Al-Jin: 15).

Perlu kiranya kita membuka kembali sejarah kehidupan Rasulullah Saw. Ibnu Ishaq menceritakan,” Rasulullah Saw. Telah berlaku adil pada beberapa barisan sahabat di Hari Badar. Beliau memegang sebuah gelas untuk berlaku adil di antara kaum, kemudian lewat di depan sawad bin Ghazyah [sekutu Bani Adi Bin najar yang keluar dari barisan]. Beliau memukul perut Sawad dengan gelas itu dan berkata,’Luruskan, ya Sawad!’ Setelah itu, Sawad berkata,’Ya Rasulullah, saya sakit oleh Engkau, sedang Allah telah mengutu Engkau dengan hak dan adil, maka biarkanlah saya marah, kemudian membalas perbuatan Engkau-Rasul Saw. Membuka perutnya dan berkata,’Balaslah (aku)!’ Maka Sawd memeluk rasulullah Saw. Lalu mencium perutnya maka beliau bertanya kepada Sawad,’Apa yang membuatmu seperti ini, ya Sawad?’ Ia menjawab,’Ya Rasulullah, sebagaimana Engkau lihat, saya ingin menjadikan pertemuan  terakhir dengan Engkau  ini, kulit saya bersentuhan dengan kulit Engkau.’ Maka Rasulullah mendoakan kebaikan bagi Sawad.” (Sirah Ibnu Hisyam, 2:456).

Suatu saat, Makhzumiyah mencuri, kemudian dibela oleh Usamah bin Zaid agar bebas dari hukuman potong tangan. Ketika Rasulullah Saw. mengetahui  peristiwa tersebut, Rasulullah marah dan berkhotbah,”Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian telah binasa. Jika orang yang terhormat yang mencuri, mereka membiarkannya, sedangkan bila yang mencuri orang lemah mereka tegakkan hokum kepadanya. Demi Allah, seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya aku potong tangannya,”(HR. Muslim).

Sebagai seorang Rasul Allah, Nabi Muhammad Saw. memberi contoh bagaimana berbuat adil, Beliau melindungi sahabatnya agar tidak terpukul, melindungi darah agar tidak tercecer, melindungi  harta mereka agar tidak dijarah, melindungi kehormatan agar tidak dilecehkan, diambil, melindungi hak-hak mereka agar tidak dirampas. Contoh-contoh tersebut hendaknya menjadikan kita lebih dekat kepada sikap untuk konsekuen di jalan keadilan.

Di antara bidang keadilan yang dapat kita temui dalam  Al-Quran adalah sebagai berikut sebagai berikut:

Pertama, adil terhadap diri sendiri, dengan cara tidak  berbuat yang menjerumuskan diri mendapat azab Allah.”Dan barang siapa yang melanggar hukum-hukum Allah, maka sesungguhnya dia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri,”(QS. Ath-Thalaq: 1). Padahal kezaliman adalah suatu perbuatan yang bertentangan dengan keadilan. Nabi Ibrahim  As dan Hawa berbuat zalim terhadap dirinya, mereka berdua mengakui kalau diri mereka telah berbuat zalim.”Mereka berdua berkata,”Ya Rabb kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri,”(QS. Al-araf: 23). Sebenarnya ketika kita berbuat zalim terhadap diri sendiri, maka sikap zalim kita tersebut termasuk perbuatan tidak adil.

Kedua, adil dalam keluarga, laki-laki  menikah lebih dari satu, syarat yang harus dipenuhi  adalah sikap adil terhadap mereka, jika sikap adil tidak terpenuhi maka menurut konsep Al-quran, lebih baik menikahi seorang istri saja (QS. An-Nisa: 3). Dalam berkeluarga, beristri keadilan juga menjadi acuan, terutama bila seseorang ingin berpoligami, dalam memberi nafkah keluarga dan anak-anak kita-pun dituntut untuk berlaku adil..

 Ketiga, adil terhadap anak  yatim.”Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu  senangi,”(QS. An-Nisa: 3). Ketika kita dekat dengan anak yatim atau bahkan mengurus kepentingan anak yatim di situ godaan untuk menghianati  harta dan amanh-amanah orang lain untuk anak yatim terbuka lebar, untuk Allah berpesan kepada kita agar berhati-hati dan selalu ÿÿngutamakan keadilan dfalam mengurus anak yatim.

Keempat, adil terhadap ahli kitab, Ketika para ahli kitab dalam keraguan, kita sebagai umat Islam disuruh oleh Allah  untuk menyeru mereka, dan kita disuruh untuk mengatakan beriman pada semua kitab-kitab Allah dan berlaku adil terhadap mereka.(QS. Asy-Syura: 14-15). Kita juga tidak dilarang untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap mereka yang tidak memerangi kita (QS. Al-Mumtahanah: 8). Meskipun kita berbeda dalam keyakinan dengan mereka, tetapi semua itu tidak menyurutkan kita untuk tidak berlaku adil, sebab berlaku adil kepada mereka adalah perintah Allah yang wajib kita laksanakan, memang akan terasa berat untuk melakukannya, tetapi disitulah letak perjuangan kita dalam menegakkan keadilan.

 Kelima, adil dalam transaksi perdagangan.”Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil,”(QS. Al-An-am: 152). Terkadang kita meremehkan tentang keadilan dalam menakar dan menimbang, padahal Allah menyuruh kita untuk berlaku adil terhadap hal tersebut. Banyak masyarakat kita terutama yang berdagang dan sering mengguanakan alat Bantu berupa timbangan, mereka sering tergoda untuk mengambil keuntungan dengan mengurangi timbangan dan takaran. Bahkan demi keuntungan yang sedikit kita rela mengorbankan konsumen dengan mengurangi kualitas dan takaran, padahal perbuatan itu dilartang oleh agama kita.

 Keenam, adil dalam memutuskan perkara,”Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang, maka damaikanlah keduannya…dengan (keputusanyang ) adil. Dan berlaku adillah sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil,”(QS.Al-Hujarat: 9). Ketujuh, Adil dalam hokum.”Dan jika kamu memutuskan perkara mereka, maka putuskanlah (perkara itu) di antara mereka dengan adil, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil,”(QS. Al-Maidah: 42). Allahu a’lam bisawwab.


Keutamaan Membaca Al-Quran

 

            Al-Quran mempunyai berbagai keutamaan dan kesempurnaan, salah satunya adalah keutamaan yang diperoleh bagi pembacanya. Sebagai wahyu terakhir Al-Quran mempunyai kelebihan, kelebihan tersebut tidak dimiliki oleh kitab-kitab Allah sebelumnya, di antaranya Allah berjanji menjaga dan memeliharanya,”Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Quran, dan sesungguhnya Kami memeliharanya,”(QS. Al-Hijr:9). Dalam ayat lain Allah mengatakan bahwa Al-Quran mempunyai nilai tinggi dan mengandung banyak hikmah,”Dan sesungguhnya Al-Quran dalam induk Al-Kitab(Lauh Mahfudz) di sisi kami adalah tinggi nilainya dan mengandung banyak hikmah,”(QS. Az-Zukruf:4).

            Memang, kalau kita telusuri banyak hadis  yang menginformasikan keutamaan bagi yang membaca Al-Quran, informasi ini mungkin belum banyak kita/umat Islam yang tahu, sehingga untuk membaca Al-Quran masih enggan, mereka lebih suka membaca Koran, majalah, dan karya ilmiah, sedangkan untuk membaca Al-Quran, banyak di antara kita tidak ada waktu untuk membaca al-Quran. Kalaupun kita membaca Al-Quran mungkin seminggu sekali, bahkan terkadang kita membaca Al-Quran hanya kalau ada orang meninggal dunia saja. Al-Quran sering menjadi pajang di etalase ruang tamu, meletakkan Al-Quran di atas lemari yang tidak terlindungi sehingga terlihat kotor, kusam dan berdebu. Padahal Al-Quran bukan hanya untuk pajangan tetapi untuk di baca, dipelajari dan di amalkan

            Untuk itu, perlu kiranya kita mengetahui manfaat dan keutamaan membaca Al-Quran, kenapa kita perlu mengetahui keutamaan dan keuntungan terhadap apa yang akan kita kerjakan? Pertanyaan  ini wajar kita utarakan, sebab dengan mengetahui keuntungan dan keutamaan apa yang akan kita kerjakan, akan menjadikan diri kita bersemangat untuk melakukannya, kita juga akan merasa rugi jika tidak melakukannya, atau meninggalkan pekerjaan itu. Dalam konsep Quantum Learning dinyatakan bahwa kalau kita ingin mengerjakan sesuatu perlu merumuskan tujuan, salah satu tujuan tersebut adalah mencari manfaat dari apa yang akan kita lakukan, jadi kalau kita ingin melakukan sesuatu, sedangkan sesuatu itu tidak memberi manfaat maka akan  timbul keengganan dan malas.

            Demikian juga, apabila kita tidak mengetahui manfaat membaca Al-Quran kita akan malas untuk membaca Al-Quran tersebut, untuk itu mengetahui keutamaan membaca Al-Quran menjadi penting agar kita menjadi bersemangat untuk melakukannya dan terus membacanya, dan yang lebih penting adalah menjadikan Al-Quran sebagai bacaan utama dalam keseharian kita, pendeknya tiada hari tanpa membaca Al-Quran, kalau selama ini kita telah membiaasakan tiada hari tanpa olah raga, tentunya kita dapat pula menerapkan semboyan tiada hari tanpa membaca Al-Quran.

            Keutamaan dalam membaca Al-Quran dapat kita temukan dalam hadis Nabi Saw, di antaranya adalah akan mendapat syafaat pada hari kiamat,”Bacalah al-Quran. Karena ia pada hari kiamat nanti akan datang untuk memberikan syafaat kepada para pembacanya,”(HR. Muslim). Dalam hadis lain dikatakan bahwa orang yang paling baik adalah orang yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya,”Orang yang  paling baik di antara kalian adalah yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya,”(HR. Bukhari). Membaca Al-Quran merupakan salah satu ibadah yang paling utama,”Yang paling utama dari ibadah ummatku adalah membaca Al-Quran,”(HR. Baihaqi).

            Ketika kita membaca Koran atau majalah kita hanya akan dapatkan informasi, tetapi kita tidak akan pernah mendapatkan pahala perhuruf dari membaca Koran, berbeda dengan membaca Al-Quran, membaca Al-Quran selain mendapatkan informasi tentang wahyu Allah dan perintah Allah , kita juga akan mendapatkan pahala dari membacanya, hebatnya kita akan mendapatkan pahala perhurufnya,”Barangsiapa membaca satu huruf dari kitab Al-Quran, maka ia memperoleh pahala satu amal kebajikan, dan pahala satu kebajikan dilipatkan sepuluh kali. Saya tidak mengatakan bahwa Alif-lam-mim itu satu huruf, tetapi Alif adalah satu huruf, lam  adalah satu huruf, dan mim juga satu huruf,(HR. Tirmidzi).

            Hebatnya, orang yang suka membaca Al-Quran akan selalu bersama para malaikat, sedangkan yang membacanmya masih terbata-bata akan mendapatkan dua pahala,”Orang yang membaca Al-Quran dan ia pandai (hafal) dalam membacanya, ia akan bersama para malaikat yang menjadi utusan, yang mulia lagi suci. Sedangkan orang yang membaca Al-Quran tetapi ia terbata-bata kesulitan, serta kesukaran dalam membacanya, ia akan memperoleh dua pahala,”(HR. Bukhari).

            Bahkan, membaca Al-Quran akan mendatangkan ketentraman dan rahmat. Dewasa ini banyak orang mencari ketentraman dengan berlibur ke pelosok-pelosok daerah, tempat yang sepi, tempat-tempat rekreasi, dan hiburan, ada juga orang yang merasa tentram ketika patuh pada atasan, dan menjilat atasan agar mendapat rahmat berupa jabatan, padahal kalau kita tahu dengan membaca Al-Quran kita akan mendapatkan ketentraman dan rahmat yang banyak dari Allah, Allah juga akan mengirimkan para malaikat untuk menjaga kita, di samping itu kita menjadi terkenal di kalangan para malaikat”Tidak ada orang-orang yang berkumpul di salah satu rumah Allah untuk membaca dan mempelajari Al-quran, kecuali mereka akan memperoleh ketentraman, diliputi rahmat, dikitari para malaikat, dan mereka disebut-sebut oleh Allah di kalangan malaikat.”(HR. Muslim).

            Ironinya, banyak orang menginginkan anugerah dan penghargaan dari pemerintah dan pemimpin bangsa ini, tetapi sedikit yang berharap anugerah terbesar dari Allah, padahal Allah menjanjikan anugerah terbaik bagi para pembaca Al-Quran,”Barang siapa selalu membaca Al-Quran dan dzikir kepada-Ku sehingga ia tidak sempat memohon apa-apa kepada-Ku, maka ia akan kuberi anugerah yang paling baik, yang diberikan kepada orang-orang yang memohon kepada-Ku,”(HR. Timidzi). Untuk itu perlu kita berfikir kembali untuk mengejar anugerah dan penghargaan atasan, atau pemerintah, sebab itu hanya akan menjadikan kita sengsara, carilah anugerah yang terbaik, penghargaan yang tertinggi yaitu dari Allah melalui gemar membaca Al-Quran. Kalau  kita ingin kaya maka hafallah Al-Quran,”Orang yang paling kaya adalah orang yang hafal Al-quran.”(HR. Ibnu Asakir).

            Banyak orang merasa takut ketika menjelang usia senja/tua, mereka takut akan pikun, takut seperti anak kecil, ketakutan yang sebenarnya tidak perlu terjadi karena pada dasarnya semua kita akan tua. Tetapi masalah kepikunan  tidak semua orang tua mengalaminya, hal ini akan menimbulkan pertanyaan kenapa? Rahasianya adalah dengan banyak membaca Al-Quran,”Dari Anas ra, bahwa Rasulullah Saw bersabda,”Pembaca Al-Quran itu tidak akan pikun,”(HR. Ibnu Asakir). Bahkan Allah menjanjikan kesehatan akal bagi pembaca Al-quran,”Barang siapa hafal Al-Quran, maka ia akan diberi kesehatan akal oleh Allah sampai ia meninggal dunia,”(HR. Ibnu Asakir). Allahu A’lam**


JENJANG MENUJU KECERDASAN NURANI


Mintalah fatwa pada dirimu, mintalah fatwa pada hatimu Wahai Wabishah (bin Ma;bud al-Aswadi). (Nabi mengulanginya tiga kali). Kebaikan adalah sesuatu yang membuat jiwa tenang dan membuat hati tenang. Dosa adalah sesuatu yang terasa tidak karuan dalam jiwa dan terasa bimbang dalam dada.(HR. Ahmad). Salah satu jenjang menuju kecerdasan nurani adalah adanya kesadaran pada diri seseorang akan adanya kemampuan menentukan suatu pilihan pada diri sendiri tentang berbagai hal dalam kehidupan, kemampuan yang dimaksud adalah mampu merasakan dan mengindahkan hembusan, bisikan dan nasehat hati nurani. Dalam bahasa kenabiannya kita disarankan untuk meminta fatwa pada diri kita, kita dianjurkan meminta nasehat pada hati nurani kita.

 Dalam bahasa sufi nurani disebut sebagai kalbu. Kalbu atau hati  dikatakan nurani? karena hati adalah modal awal yang diberikan Allah kepada manusia sejak zaman azali, awal penciptaan, dan salah satu fungsinya adalah agar manusia mampu menggunakan sumber kecerdasan hati nurani tersebut sebagai penerang dalam menjalani kehidupan. “Dan jiwa serta penyempurnaannya(ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”(QS. Asy-Syams: 7-10).

Nurani berarti cahaya, ketika cahaya tersebut, tidak terhalangi oleh sesuatu maka cahaya tersebut akan memancar ke segala penjuru, karena nurani bersifat cahaya maka untuk menjaganya agar tidak kabur dan suram, hendaknya cahaya tersebut kita hindarkan dari berbagai penghalang, seperti perbuatan maksiat, dosa, mungkar dan berbagai pelanggaran lainnya kepada Allah. Ayat di  secara jelas menginformasikan bahwa orang yang menjaga kecerdasan hati  nuraninya akan memperoleh keberuntungan, sebaliknya seseorang yang membiarkan kecerdasan hati nuraninya terhalang oleh kotoran maka ia akan mendapatkan kerugian.

Kecerdasan hati nurani  pada manusia sangat menentukan baik buruknya sifat dan sikap seseorang dalam memaknai hidupnya, kalau hati nuraninya digunakan dan dijaga dengan baik maka akan baiklah semua perilakunya, akan baiklah akhlaknya, sebaliknya bila hati  nurani dibiarkan kering, kusam dan kotor, maka akan kotorlah perbuatannya, perilakuknya, akhlaknya. Ingatlah bahwa dalam dirimu ada segumpal daging yang kalau baik maka seluruh jasadmu/hidupmu akan baik dan kalau daging itu rusak maka seluruh jasadmu/hidupmu akan rusak, daging itu adalah kalbu/hati nurani.(HR. Bukhari). Berapa banyak orang yang mempunyai hati nurani, namun kecerdasan hati nurani tersebut tidak mampu menyelamatkan dirinya dari sifat dan perilaku yang buruk dan amoral. Hati nuraninya telah tercuci  dan tergantikan dengan kecerdasan zulmani.

Seseorang menggunjing, memaki, mencuri, merampok, korupsi, penghianat bangsa, mengingkari janji dan perbuatan buruk lainnya adalah bukti nyata  dari pengabaian seseorang  pada hati nuraninya, ia tidak pernah mendengarkan bisikan hati nuraninya, ia tidak pernah meminta nasehat pada hati nuraninya, ia tidak pernah meminta fatwa pada hati nuraninya. Padahal secara jelas dan tegas Allah dan Rasul-Nya mengatakan bahwa untuk menyikapi berbagai persoalan hidup hendaknya manusia meminta fatwa pada nuraninya, karena pada dasarnya nurani kita adalah cahaya Allah yang ditanamkan dalam diri kita untuk dimanfaatkan sebagai arah dan penasehat pribadi manusia menuju keridaan Allah.  Allah memberikan hati nurani agar manusia bekeja dan bertindak sesuai dengan hati nurani atau kata hati.

Di saat hati tenang dan tentram setelah melakukan sesuatu, tidak merasakan ketakutan, tidak takut dilihat orang, maka perasaan tersebut  mengindikasikan bahwa perbuatan, sikap dan kerja kita telah sesuai dengan hati nurani, dalam arti kita bekerja dahtidak tentram dan takut perbuatan, sikap dan kerja kitadilaihat orang maka , hal menunjukkan bahwa kita belum mendengarkan hati nurani, belum meminta fatwa dan nasehat hati nurani kita.

Bagaimana cara melatih agar hati nurani kita peka, nurani kita sensitive? Salah satu cara adalah dengan salat, sebagaimana telah kita lakukan dan amalkan dalam salat, kita selalu berdoa kepada Allah, yaitu tunjukilah kami jalan yang lurus, jalan yang diridhoi oleh Allah, bahkan sebelum  doa itu, kita selalu mengucapkan bahwa hanya kepada Allahlah kita menyembah dan hanya kepada Allahlah kita meminta pertolongan, hal ini membuktikan bahwa untuk menempuh jalan yang lurus itu tidak mudah. Jalan yang lurus itu tidak pernah kita dapatkan disaat hati kita kotor penuh dengan dosa,  hati dikatakan nurani apabila hati tersebut bersih. Sebaliknya dosa identik dengan kekotoran dan kegelapan, dalam istilah Al-Quran orang yang jahat, berbuat dosa biasanya disebut zhalim, kemudian apa hubungannya dengan hati? Hubungan tersebut ada pada  perbuatan jahat yang dapat menyebabkan hati seseorang gelap, bahkan Al-Ghazali  dalam Ihya Ulumuddin, mengumpamakan orang yang mempunyai kecerdasan hati nurani adalah semisal orang yang mempunyai cermin, selama  cermin itutehindar dari karatan dan kotoran maka dengan cermin itu ia akan mampu melihat segala sesuatu. Sebaliknya bila kaca itu berkarat dan penuh debu dan dibiarkan kotor dan berkarat maka, ia akan menjadi gelap dan akhirnya membuat ia binasa. Nabi bersabda,”Sesungguhnya hati itu berkarat seperti besi yang berkarat. Ada yang bertanya, “Bagaimana menghilangkannya?” Beliau menjawab, “Mengingat mati dan membaca Al-Quran.

Menurut Rasulullah tingkat kecerdasan hati nurani ada empat, yaitu, kecerdasan nurani yang bersinar seperti lampu, semua kegelapan hilang, semua menjadi jelas dan tenang dan kecerdasan  hati nurani itu adalah milik orang mukmin. Kecerdasan hati  yang gelap dan terbalik, hatinya tidak mampu membedakan yang baik dan buruk, baik dianggap buruk, dan yang buruk dianggap baik, perbuatan yang bernilai pahala dianggap dosa,  perbuatan yangbernilai dosa dianggap berpahal, singkatnya dalam menghadapi  sesuatu selalu terbalik. Dan kecerdasan itu adalah milik orang kafir, yang tidak mampu mendengarkan hati nuraninya. Kecerdasan hati  yang tertutup dan terikat oleh tutupnya, itulah  kecerdasan hati orang munafik, hidupnya penuh kepura-puraan, tidak konsisten antara perkataan dan perbuatan, selalu menghianati amanat dan mungkir janji  bila berjanji. Selanjutnya kecerdasan hati yang berlapis, dalam hal ini keimanan seseorang  masih bercampur dengan sifat munafik, sehingga kecenderungan kecerdasan hati nuraninya selalu labil dan tidak konsisten, saat tertentu ia mendengarkan hati nuraninya, dan waktu lain ia mengabaikan  hati nuraninya.

Apabila kecerdasan hati nurani hilang pan kitdalam diri seseorang, maka kecerdasan tersebut berubah menjadi kecerdasan hati zulmani. Karakteristik ari kecerdasan hati zulmani adalah jika ia berbuat jahat, ia tidak merasa bebuat jahat, dan ia biasanya selalu mampu mencari solusi untuk membenarkan perbuatan jahat/buruknya itu, sehingga terlihat seprti baik. Maka apakah orang yang dijadikan setan menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu dia meyakini pekerjaan itu baik,(sama dengan orang yang tidak ditipu oleh setan)? Maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang Dia kehendaki-Nya, maka janganlah dirimu binasa karena bersedih terhadap mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan(QS. Faathir: 8)

  Kalau kita perhatikan dalam kehidupan sehari-hari maka akan kita temui orang-orang yang mempunyai kecerdasan hati zulmani tersebut, biasanya mereka ini tidak mengindahkan hokum-hukum Allah, mereka yang mempunyai kecerdasan hati zulmani cenderung menuhankan keinginannya sendiri tanpa mengindahkan hokum Allah dan kepentingan manusia. Sebenarnya orang yang kehilangan kecerdasan hati nurani, telah terjebak pada institusi yang didirikan oleh setan, makanya tidak heran kalau mereka ini(yang dihasilkan dari institusi setan ) akan mempunyai kecerdasan hati zulmani, yaitu kecerdasan  hati yang gelap, memang sangat wajar kalau ia mempunyai kecerdasan hati zulmani karena ia didik dan digembleng  oleh institusi yang didirikan oleh setan. “Dan orang-orang yang kafir/ingkar pelindung-pelindungnya adalah setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan. Dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya”(QS.Al-Baqarah: 257). Orang-orang yang mempunyai kecerdasan zulmani telah mengabaikan dan mengingkari himbauan dan peringatan Allah, bahwa hendaknya manusia itu benar-benar masuk institusi Islam/agama Islam dengan kaffah/menyeluruh, dan kita juga diberikan informasi yang jelas bahwa  seseorang yang masuk institusi yang  dilindungi oleh Allah/ berislam secara kaffah, maka Allah akan mengeluarkan seseorang dari kecerdasan  hati  zhulumani  kepada kecerdasan hati nurani/cahaya. Allah  pelindung orang-orang yang beriman, Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan(zhulumat) kepada cahaya.(nur),(QS. Al-baqarah: 257).

Tatanan masyarakat dunia hancur akibat orang-orang yang mempunyai kecerdasan hati zhulmani, mereka  telah berbuat jahat, akan tetapi ia menganggap perbuatannya itu baik, ketika seseorang telah seperti ini, maka ia telah menapaki jalanan menurun sebagai hamba Allah, derajatnya mendekati titik nadir sebagai makhluk Allah, ia tidak lagi menjadi khalifah  di muka bumi, kehidupannya sia-sia, perbuatannya semua sia-sia, an akhirnya ia mengalami kebangkrutan ruhani. Untuk orang seperti ini, Allah menegur keras dalam Al-Quran,”Katakanlah:”Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang oaring-orang yang paling merugi perbuatannya?”Yaitu  orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.”(QS.  Al-Kahfi: 103-104). Dalam ayat lain Allah menegaskan bahwa ketika seseorang telahdiciptakan dengan sebaik-baiknya, tetapi ia tidak menggunakannya untuk mengimani, mengabdi dan beramal soleh karena Allah maka, ia termasuk orang yang merugi, dia akan diturunkan derajatnya ke tempat yang paling renadh yaitu neraka. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya(jasmani dan rohani). Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya/sehina-hinanya (neraka). Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal soleh/kebaikan, maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya. (QS. At-Tin: 4-6).

Langkah menuju jenjang kecerdasan ruhani adalah dengan banyak membaca Al-Quran, salat malam, mendalami ilmu agama/berkumpul dengan orang soleh, sering puasa dan banyak berzikir kepada Allah.Ingatlah hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.(QS. Ar-Ra’du: 28). Allahu a’lam bisawwab.**


Kezuhudan Hati

 

  • Hadis riwayat Amru bin Auf ra., ia berkata:
    Bahwa Rasulullah mengutus Abu Ubaidah bin Jarrah ke Bahrain untuk memungut jizyahnya (upeti), karena Rasulullah telah mengadakan perjanjian damai dengan penduduk Bahrain dan mengangkat Alaa' bin Hadhrami sebagai gubernurnya. Kemudian Abu Ubaidah kembali dengan membawa harta dari Bahrain. Orang-orang Ansar mendengar kedatangan Abu Ubaidah lalu melaksanakan salat Subuh bersama Rasulullah. Setelah salat, beliau beranjak lalu mereka menghalanginya. Ketika melihat mereka beliau tersenyum dan bersabda: Aku tahu kalian telah mendengar bahwa Abu Ubaidah telah tiba dari Bahrain dengan membawa harta upeti. Mereka berkata: Benar, wahai Rasulullah. Beliau bersabda: Bergembiralah dan berharaplah agar mendapatkan sesuatu yang menyenangkan kamu sekalian. Demi Allah, bukan kefakiran yang aku khawatirkan terhadap kalian, tetapi yang aku khawatirkan adalah jika kekayaan dunia dilimpahkan kepada kalian sebagaimana telah dilimpahkan kepada orang-orang sebelum kalian, kemudian kalian akan berlomba-lomba mendapatkannya sebagaimana mereka berlomba-lomba dan akhirnya dunia itu membinasakan kalian sebagaimana ia telah membinasakan mereka. (Shahih Muslim No.5261)


Islam Peduli Pembantu

 

Kita  berduka atas  berbagai penganiayaan terhadap pembantu rumah tangga, kekerasan demi kekerasan, kekejian dan kekejaman serta penyiksaan terhadap pembantu makin marak terjadi. Nasib para pembantu sangat menyedihkan dan memiriskan hati, maksud hati untuk memperbaiki nasib tetapi yang terjadi malah tersiksanya diri. Penyiksaan demi penyiksaan terus dialami pembantu, mereka bekerja menjadi pembantu untuk memperbaiki nasib, mengangkat ekonomi keluarga, meskipun dengan menjadi pembantu, tetapi dalam hati mereka masih ada keinginan kuat untuk tidak membebani orang lain. Mereka tidak pernah merasa hina bekerja menjadi pembantu di rumah keluarga lain, karena mereka percaya  bahwa menjadi pembantu adalah pekerjaan mulia dan halal.

            Tetapi, kenapa nasib mereka selalu dipinggirkan? Kenapa kekerasan demi kekerasan selalu mewarnai hidup mereka? Bukankah mereka bekerja untuk para majikannya? Para pembantu bekerja bukan untuk disakiti, dianiaya, disiksa, atau bekerja untuk tidak dibayar? Pembantu juga manusia, mereka membutuhkan perlindungan, hewan saja dilindungi apalagi pembantu? Pembantu adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan social manusia. Adalah zalim menyiksa, menganiaya dan menahan gaji pembantu. Padahal dengan gaji tersebut para pembantu berharap suatu saat nasibnya akan berubah.

 Pembantu bekerja untuk memperbaiki nasib dirinya,  orang tua, saudara-saudara  mereka. Pembantu  terlahir bukan untuk dijadikan obyek penyiksaan, penganiayaan, dan kekerasan, pembantu  adalah kenyataan sosial, mempunyai hak untuk dilindungi kehormatan, hak milik, harta, jiwa, kebebasan berekpresi, berbicara, perlindungan hokum, yang semua itu dipunyai oleh setiap orang, apakah itu para pembantu, majikan, orang miskin, kaya, orang biasa, pejabat, orang sakit, orang sehat dan setiap manusia  yang masih hidup mempunyai hak-hak azasi yang perlu diakui oleh siapapun.

            Manusia   mempunyai kesempatan sama untuk mendapatkan kemuliaan, tidak ada superior, maupun interior, suku, adat, bahasa, keturunan, warna kulit, jabatan dan pangkat bukanlah pembeda, bukanlah sarana untuk saling merendahkan, perbedaan status dan strata social bukan alasan untuk menjajah hak-hak azasi orang lain, karena yang membuat manusia mulia adalah ketakwaannya, jadi kita tidak berhak memproklamirkan diri sebagai orang yang paling mulia,” Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.(QS. Hujarat: 13).

            Dari ayat di atas, jelaslah bahwa manusia  diciptakan berbeda-beda bukan untuk saling menganiaya dan menyiksa, atau pun saling menghinakan satu dengan lainnya, tetapi manusia diciptakan berbeda untuk saling mengenal dan saling menolong, sebab setiap manusia membutuhkan orang lain. Tidak  ada orang yang dapat hidup tanpa bantuan orang lain. Ayat di atas juga mempertegas kenyataan bahwa tidak ada perbedaan antara majikan dan pembantu dalam memperoleh predikat kemuliaan, kemuliaan tidak hanya milik majikan tetapi milik semua manusia, semua manusia mempunyai kesempatan yang sama untuk menjadi mulia, yaitu dengan bertakwa kepada Allah.

            Dengan demikian, menjadi majikan belum tentu mulia, begitu juga menjadi pembantu juga bukan posisi yang hina, maka tidak alasan untuk menyiksa pembantu, menganiaya pembantu, atau bahkan menghilangkan nyawanya. Karena kita adalah manusia, majikan juga manusia, pembantu juga manusia, kita sama tidak ada bedanya, yang  berbeda hanya posisinya saja, antara pekerja dan majikan. Jadi tidak ada alasan untuk menindas orang lain.

            Posisi  kerja dan kedudukan bukan menjadi alasan untuk berbuat sewenang-wenang, karena satu sama lain mempunyai hak yang sama dalam kehidupan, yaitu hak azasi manusia, hak universal milik semua manusia, demikian juga majikan mempunyai hak, dan kewajiban, pembantu juga mempunyai hak dan kewajiban, yang kesemua itu akan mengarahkan cara, pola, sikap dan kebijakan yang mengarah kepada kemaslahatan bersama. Mendapatkan  hak dan sama-sama menunaikan kewajiban, dan pada akhirnya akan terjadi keadilan di antara pembantu dan majikan. Apabila hal ini terwujud dan dilakukan sesuai hak dan kewajiban masing-masing maka akan terjadi keseimbangan dan keteraturan dalam hubungan antara majikan dan pembantu.

            Islam sebagai agama universal dan rahmat bagi seluruh alam mengatur bagaimana seharusnya sikap majikan terhadap pembantu, bagaimana memperlakukan pembantu, termasuk masalah pekerjaan yang dibebankan dan sistem penggajiannya. Rasulullah Saw sangat peduli terhadap para pembantu, Rasul melarang menyiksa para pembantu, menganiaya, menyakiti dan mendiskriminasikannya. “Dari Al-Marur bin Suwaid berkata,”Aku pernah melihat Abu Dzar Al-Ghifary r.a. sedang mengenakan sepotong baju jubah, juga budaknya yang mengenakan baju serupa. Kemudian aku menanyakan hal itu kepadanya. Jawabnya,”aku pernah mencaci maki seseorang, lalu orang itu mengadukanku kepada Rasulullah Saw kemudian Nabi bersabda, Apakah kamu menghinanya karena ibunya. Sesungguhnya kamu adalah seseorang yang pada dirimu terdapat jiwa jahiliyah. Kemudian Nabi menjelaskan, sesungguhnya saudara-saudara kalian itu pembantu kalian juga, yang Allah jadikan berada di bawah kekuasaan kalian. Maka barang siapa yang saudaranya di bawah kekuasaannya, hendaklah ia memberinya pakaian seperti pakaian yang ia kenakan, janganlah kalian bebani mereka dengan apa yang memberatkan mereka, karena jika kalian membebani mereka dengan apa yang memberatkan maka bantulah.”(HR. Bukhari Muslim).

            Hadis tersebut menunjukkan bahwa pembantu hendaknya diperlakukan seperti saudara sendiri. Perlakuan ini mencakup masalah pakaian, makanan, dan tempat tinggal, kalau kita memakai baju bagus, maka menurut hadis di atas kita disuruh oleh Nabi Saw  untuk membelikannya, apabila kita tidak membelikannya, maka perbuatan kita bertentangan dengan hadis dia atas. Ada juga majikan enggan memberi pembantunya baju bagus, paling-paling baju sudah lusuh, tidak layak pakai, yang sering diberikan kepada pembantunya. Ada juga majikan pelit terhadap makanan. Terkadang makanan dibiarkan basi daripada diberikan kepada pembantu, padahal menurut ajaran Islam pembantu berhak mendapatkan makanan seprti yang dimakan majikannya.

            Majikan arif dan bijak adalah  majikan yang memberi pekerjaan kepada pembantu sesuai dengan kemampuan  pembantu,  kalau pun majikan memberi tugas berat atau diluar kemampuan pembantunya, maka menurut ajaran Islam majikan harus memberi pertolongan atau membantu kerjanya. Selain itu majikan hendaknya memberi bimbingan kepada pembantu agar pekerjaan yang dibebankan dapat dilaksanakan sesuai dengan kehendaknya (majikan).

            Majikan mempunyai kewajiban membayar hak/gaji pembantunya, kewajiban ini terkadang menjadi problem di kalangan majikan, ada kecenderungan oknum majikan yang dengan sengaja menunda gaji pembantunya, bahkan lebih parah adalah tidak membayar gaji pembantunya, tidak itu saja, majikan juga menyiksa pembantunya dengan bermacam cara, selain tidak mendapat gaji, disiksa  majikan, dipaksa untuk bekerja dan tidak diberi makan, bahkan sampai diperkosa, sikap dan perilaku seperti itu secara nyata telah menentang ajaran Rasul Saw, dan secara sah mengambil posisi melawan dan mengabaikan ajaran Rasul Saw tentang penghargaan terhadap pembantu. Padahal gaji adalah hak pembantu, dan majikan wajib membayar gaji pembantunya, dalam ajaran Islam ketika seseorang telah selesai melakukan pekerjaan sebelum keringatnya kering  gaji harus sudah dibayarkan, hal ini menunjukkan membayar gaji pekerja/pembantu hendaknya tepat waktu,”Bayarlah kepada pekerja upahnya sebelum kringkeringatnya dan beritahukanlah berapa upahnya, ketika dia masih bekerja,”(HR. Baihaqi).

            Dari hadis di atas dapat diambil pokok pemahaman, pertama majikan harus membayar upah pembantu sebelum keringatnya kering atau membayar gajinya setelah bekerja sesuai kesepakatan, dalam arti tidak boleh menunda. Kedua, majikan  hendaknya transparan dalam permasalah gaji, bahkan sebelum pembantu bekerja masalah besar gaji hendaknya sudah diketahui oleh pekerja/pembantu. Dengan adanya trnsparansi dalam system penggajian akan menjauhkan majikan dan pembantu dari perbuatan melanggar hak azasi manusia atau mungkin melanggar hokum ketenagakerjaan.

            Islam peduli kepada pekerja/pembantu dapat dicermati dari keutamaan memenuhi dan membayarkan gaji pembantu/pekerja meskipun pembantunya sedang tidak ada di tempat pada waktu itu, sikap majikan yang menjaga dan mengembangkan gaji pembantunya dengan dibelikannya binatang ternak, sehingga ternak tersbut menjadi banyak, setelah saekian lama pembantunya kembali dari tugas yang jauh, dan bertahun-tahun, sebagai majikan ia tetap memberikan hak pembantunya, meskipun gaji yang sebelumnya sedikit, lalu dengan gaji tersebut ia belikan ternak, tetapi majikan tgersebut tetap memberikan semua ternak itu, meskipun gaji pembantunya tidak sebanyak nilai ternak tersebut. Sikap majikan yang baik, membayarkan gaji pembantunya tepat waktu, dan ketika pembantunya tidak di rumah, majikan tersebut tetap membayarkan gaji pembantunya.

 Bahkan, dengan keikhlasan majikan menggunkan gaji pembantunya untuk dijadikan modal usaha peternakan sehingga gaji pembantunya berlipat ganda, dan setelah pembantunya kembali majikan tersebut memberikan gaji sekaligus semua ternak itu, majikan tidak mengambil sedikitpun dari uang gaji pembantunya. Perbuatan majikan tersebut akhirnya menjadi wasilah baginya untuk lolos dari tragedi, ketika ia (majikan) terkurung dalam goa bersama dua orang temannya. Dengan berbuat baik kepada pembantu menjadikan majikan tadi mendapat pertolongan Allah.

            Dengan demikian, memuliakan pembantu, bersikap adil dan peduli terhadap pembantu merupakan ibadah mulia di sisi Allah,  mulia karena telah membantu orang lain, mulia karena pekerjaan pembantu diberi perhatian khusus oleh Nabi Saw, bahkan Nabi Saw sendiri juga pernah menjadi pembantu Khadijah,begitu juga dengan Nabi Yusuf, dan Nabi Musa.  Fakta ini membuktikan bahwa menjadi pembantu bukan pekerjaan hina. Allahu Alam